Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

IDI: RS Rujukan Covid Penuh, Bulan Depan Kelebihan Kapasitas

Rabu 12 Aug 2020 12:42 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Andri Saubani

Petugas medis mengenakan alat pelindung diri lengkap di ruang perawatan pasien COVID-19 yang baru saja diluncurkan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (30/4/2020)

Petugas medis mengenakan alat pelindung diri lengkap di ruang perawatan pasien COVID-19 yang baru saja diluncurkan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (30/4/2020)

Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO
IDI meminta pemerintah menambah jumlah RS rujukan Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Satgas Covid-19 IDI Profesor Zubairi Djoerban mengatakan saat ini rumah sakit (RS) rujukan Covid-19 di DKI Jakarta penuh dengan pasien yang terpapar Covid-19.  Jika kondisi kekuarangan tempat tidur tidak dicegah secara dini, bisa dipastikan bulan depan RS akan mengalami kelebihan kapasitas.

“Saat ini RS rujukan Covid-19 itu penuh. Artinya orang yang terkena Covid-19 dan harus dirawat susah nyari tempat tidur. Nantinya, jika hal ini tidak dicegah seperti penambahan RS rujukan di Jakarta, pasien akan bingung untuk berobat kemana dan tenaga kesehatan akan lebih banyak yang terkena Covid-19 akibat beban berlebih pasien yang semakin hari semakin banyak,” katanya saat dihubungi Republika, Rabu (12/8).

Kemudian, ia melanjutkan jumlah RS rujukan di DKI Jakarta hanya ada 59 RS, Jawa Tengah 58 RS, Jawa Timur 127 RS dan Jawa Barat 153 RS. Menurutnya, harus ada penambahan RS rujukan khususnya di daerah yang tidak menggelar tes Covid-19 secara merata.

“Makanya, sekarang kenapa DKI Jakarta paling banyak yang positif Covid-19 karena ada tes Covid-19 yang dilakukan kepada masyarakatnya. Jadi, gampang untuk di-tracing dan cepat dirawat. Sedangkan di daerah sepertinya tes-tes tersebut tidak dilaksanakan secara merata. Sehingga nantinya akan lebih parah karena tidak tahu siapa yang terkena Covid-19,” kata dia.

Dengan kondisi seperti ini, harus ada upaya pencegahan pemerintah dari sekarang seperti, membangun RS rujukan Covid-19 dengan memenuhi tenaga kesehatan dan alat-alatnya. Itu butuh proses yang panjang atau menambah RS yang ada dijadikan RS rujukan Covid-19.

Menurut Zubairi, Instruksi Presiden (Inpres) tentang Covid-19 harus dilaksanakan. Jangan hanya menjadi aturan. Pemerintah harus mengontrol masyarakat dan bekerja sama dengan instansi lain untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Persentase rata-rata makin lama meningkat seminggu terakhir. Ini merupakan tugas masyarakat, pemerintah dan tim kesehatan. Jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker. Paling penting pemerintah harus tingkatkan tes masifnya berkali lipat harus mencapai 100 ribu per hari,” kata dia.



Sebelumnya diketahui,Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus mencatat penambahan kasus harian yang masih tinggi. Data Selasa (10/8) jumlah kasus positif Covid-19 bertambah 471 sehingga tatal ada 26.664 kasus.

Selain meningkatnya kasus harian, angka positivity rate di DKI juga terus meningkat. Angkanya kini menjadi terakhir 8,4 persen dari 5,9 persen pada Juli lalu.

Positivity rate adalah rasio jumlah kasus positif Covid-19 dibandingkan dengan total tes di suatu wilayah. Positivity rate dihitung dengan membagi jumlah kasus positif dengan jumlah orang yang dites dan mengalikannya dengan 100.

Positivity rate yang rendah menunjukkan juga jumlah orang yang dites semakin banyak dan menunjukkan pelacakan kontak yang memadai. WHO menetapkan standar positivity rate di angka 5 persen.

Baca Juga

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Fify Mulyani memaparkan, berdasarkan data terkini Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dilakukan tes PCR sebanyak 5.401 spesimen. Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 4.522 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 471 positif dan 4.051 negatif.

"Dari 471 kasus positif tersebut, 90 kasus adalah akumulasi data dari hari sebelumnya yang baru dilaporkan. Untuk rate tes PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 44.113. Jumlah orang yang dites PCR sepekan terakhir sebanyak 44.667," terangnya, Selasa (11/8).

photo
Rekor Kasus Covid-19 di DKI Jakarta - (Infografis Republika.co.id)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA