Senin 10 Aug 2020 18:50 WIB

Duka CIta Rakyat Lebanon, Rezim Zionis Tertawa Gembira?

Dunia memberika simpati untuk Lebanon sementara rezim Zionis gembira.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah
Dunia memberika simpati untuk Lebanon sementara rezim Zionis gembira.Asap mengepul dari lokasi ledakan yang melanda pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu, 5 Agustus 2020.
Foto: AP/Hussein Malla
Dunia memberika simpati untuk Lebanon sementara rezim Zionis gembira.Asap mengepul dari lokasi ledakan yang melanda pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu, 5 Agustus 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, Insiden ledakan di Beirut Lebanon pekan lalu mendapat tanggapan dari sejumlah cendekiawan. Ledakan yang terjadi di kawasan pelabuhan Beirut, Lebanon Selasa (4/8) semakin memperburuk kondisi negara yang berada di sepanjang Laut Tengah itu

Ulama senior dari Irak, Ayatollah Sayyed Muhammad-Taqi al-Modaressi, mengatakan beberapa politisi Barat buta politik dan tidak melihat apapun di dunia selain rezim Zionis yang merampas kekuasaan dan mereka ingin semua negara tunduk pada rezim itu.

Baca Juga

"Apa yang terjadi serta berkaitan dengan konflik dan insiden berturut-turut di (Asia Barat) wilayah itu adalah pertarungan antara kekuatan setan dan umat manusia, antara mereka yang mencoba mengembalikan orang-orang ke penghinaan dan ketergantungan pada mereka dan antara mereka yang mengikuti Tuhan. Mereka yang tidak puas kecuali dengan kemerdekaan dan kedaulatan negaranya," kata tokoh senior yang berbasis di Najaf, Irak dalam pidatonya tentang pemboman di Beirut, Lebanon.

"Apa yang terjadi berkenaan dengan konflik dan perang di wilayah kami adalah karena perintah-perintah dari kekuatan setan ini, dan mereka yang tidak menginginkan kemapanan dan keamanan untuk negara telah menggoda agen mereka untuk menciptakan perang dan kekacauan," kata Ayatollah.

Ayatollah mengatakan, beberapa politisi Barat buta politik dan tidak melihat apapun di dunia selain rezim Zionis yang merampas kekuasaan dan mereka ingin semua negara tunduk pada rezim itu. Oleh karena itu, tekanan yang dibebankan pada Lebanon mengikuti kebijakan semacam itu yaitu kebijakan 'rumah kepatuhan' yang berarti menundukkan semua negara dan mereka mengikuti strategi ini dengan cara yang buruk.

Apa yang terjadi di Lebanon adalah ledakan dahsyat yang menyebabkan ribuan korban jiwa dan mengakibatkan kehancuran sebagian besar kota Beirut. Ledakan itu disengaja atau tidak disengaja, harus dikatakan bahwa itu adalah insiden yang sangat besar. Maka mereka yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut harus menerima hukuman yang adil di dunia material ini, jika tidak Tuhan akan menghukum mereka atas tindakan mereka.

Merujuk pada tingkat simpati internasional terhadap rakyat Lebanon, menurutnya, ekspresi simpati ini menunjukkan posisi Lebanon di antara negara-negara di dunia yang membujuk pemerintahnya untuk mengungkapkan simpati mereka kepada Lebanon.

"Dalam suasana yang penuh empati dan emosi ini, beberapa tombak kekuatan setan telah menunjukkan kegembiraan yang jahat atas kesedihan rakyat Lebanon, bahkan lebih dari para Zionis. Namun, simpati masyarakat dunia dengan rakyat Lebanon menyebabkan penghinaan terhadap Zionis," kata Ayatollah.

Perlu diketahui bahwa orang-orang Lebanon sedang menyembuhkan luka dan mengatasi tantangan, membangun kembali negara mereka. Kejahatan, kebencian dan permusuhan berbalik kepada mereka, dan orang-orang di wilayah yang berharga ini membayar untuk mereka, kemerdekaan dan martabat dan nilainya ada di tangan Tuhan, seperti yang telah Tuhan janjikan.

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

"Barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang." (QS Al-Maidah: 56).

Pada malam 4 Agustus 2020, serangkaian ledakan terjadi di kota Beirut, ibu kota Lebanon. Ledakan utama yang sangat dahsyat di Pelabuhan Beirut yang didahului oleh api, menyebabkan sedikitnya 154 orang meninggal dunia, 80 orang lainnya hilang, dan lebih dari 5.000 orang terluka.

Gubernur Beirut Marwan Abboud memperkirakan hingga 300 ribu orang kehilangan tempat tinggal akibat ledakan tersebut. Pemerintah mengumumkan keadaan darurat selama dua pekan.

Ledakan itu terkait dengan adanya sekitar 2.750 ton (3.030 ton pendek) amonium nitrat, setara dengan sekitar 1.155 ton TNT (4.830 gigajoule) yang telah disita oleh pemerintah dari kapal MV Rhosus yang ditinggalkan dan disimpan di pelabuhan selama enam tahun. Dilansir dari AhlulBayt News Agency (ABNA), Senin (10/8).

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement