Jumat 07 Aug 2020 19:16 WIB

Kejanggalan-Kejanggalan Ledakan Dahsyat Lebanon

Kapal Rhosus ditinggalkan pemiliknya di Pelabuhan Beirut dan tak pernah diambil.

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah
 Seorang tentara berdiri di lokasi ledakan yang hancur di pelabuhan Beirut, Lebanon, Kamis, 6 Agustus 2020. Presiden Prancis Emmanuel Macron datang di Beirut untuk menawarkan dukungan Prancis ke Lebanon setelah ledakan pelabuhan yang mematikan itu.
Foto: AP/Thibault Camus
Seorang tentara berdiri di lokasi ledakan yang hancur di pelabuhan Beirut, Lebanon, Kamis, 6 Agustus 2020. Presiden Prancis Emmanuel Macron datang di Beirut untuk menawarkan dukungan Prancis ke Lebanon setelah ledakan pelabuhan yang mematikan itu.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Penyelidikan ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon, yang menewaskan lebih dari 100 orang masih terus berlanjut. Sejauh ini amonium nitrat yang tersimpan di pelabuhan masih menjadi faktor utama penyebab ledakan.

Kendati demikian banyak pertanyaan dan kejanggalan yang muncul mengenai ledakan mematikan ini. Berikut kejanggalan yang masih menjadi pertanyaan publik. 

Baca Juga

1.  Mengapa Amonium Nitrat Disimpan Bertahun-tahun?

Kejanggalan pertama mengapa senyawa kimia yang mudah meledak itu bisa disimpan selama bertahun-tahun (sejak 2013) di pelabuhan di Lebanon. Padahal kapten kapal kargo yang membawa bahan kimia mudah meledak itu mengatakan sejak awal benda itu seharusnya tidak disimpan di Beirut. Adakah maksud lain dari penyimpanan senyawa kimia itu meningat Lebanon adalah negara yang kerap terlibat konflik bersenjata?

"Mereka menjadi serakah," kata Boris Prokoshev, kapten kapal Rhosus yang membawa amonium nitrat itu dari Georgia menuju Mozambik.

Prokoshev mengatakan pemilik kapal memintanya untuk singgah ke Lebanon untuk mengambil kargo tambahan. Berlabuhnya Rhosus di Beirut tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Menurut Prokoshev, saat diminta singgah di Beirut melewati Mediterania kapal itu sudah memuat 2.750 ton amonium nitrat. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Afrika, awak kapal diminta memuat alat berat untuk konstruksi jalan dan membawanya ke Pelabuhan Aqaba, Yordania. 

Namun kapal tidak pernah meninggalkan Beirut, karena gagal membawa kargo tambahan itu. Awak kapal justru harus terlibat urusan hukum yang berkepanjangan. "Itu tidak mungkin, itu dapat menghancurkan seluruh kapal dan saya katakan tidak," kata Prokoshev yang kini sudah pensiun dan tinggal di Sochi, Rusia.

2. Mengapa Kapal Ditinggalkan Begitu Saja di Beirut?

Persoalan lain yang menjadi pertanyaan mengapa kapal itu ditinggalan begitu saja di Beirut dan tak pernah diurus.  Kapten dan pengacara yang mewakili sejumlah kreditor menuduh pemilik kapal meninggalkan kapalnya dan melarikan diri agar tidak ditangkap.

Berdasarkan laporan Maritime Bulletin pihak berwenang Lebanon awalnya tidak mengizinkan kapal itu meninggalkan pelabuhan karena cek untuk membayar tagihan berlabuh palsu.

Pemilik kapal yang bernama  Igor Grechuskin dinyatakan bankrut dan meninggalkan kapal itu begitu saja. Tak hanya itu yang menjadi pertanyaan lain mengapa pembeli amonium nitrat dari Mozambik tidak meminta barang mereka?

Sementara itu Kapten kapal dan tiga orang awak menghabiskan 11 bulan di dalam kapal sambil mengikuti persoalan hukum di Lebanon. Mereka tidak digaji dan hanya diberi pasokan makanan yang terbatas. Ketika mereka pulang, amonium nitrat di Rhosus belum dikeluarkan.

photo
Asap mengepul dari lokasi ledakan yang melanda pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu, 5 Agustus 2020. - (AP/Hussein Malla)

3. Mengapa Amonium Nitrat Disimpan di Hanggar?

Atas alasan keamanan muatan kapal tersebut dikeluarkan dan disimpan di dalam hangar. Berdasarkan pernyataan Prokoshev,  bila Rhosus berhasil memuat kargo tambahan. Kemungkinan besar amonium nitrat itu tidak berada di Beirut. 

"Kargonya sangat mudah meledak, itulah mengapa kami mempertahankannya di kapal ketika kami di sana, amonium nitrat memiliki konsentrasi yang sangat tinggi," kata Prokoshev.

Prokoshev mengatakan ledakan berawal dari pemerintah Lebanon yang menahan Rhosus di pelabuhan. "Mereka mengetahui dengan baik betapa berbahayanya kargo itu, pendapat saya, mereka bahkan harusnya membayarnya (pemilik kapal) untuk segera membawa keluar kargo itu dari pelabuhan, benar-benar memusingkan kepala, tapi mereka justru menahan kapal," kata Prokoshev seperti dilansir dari Aljazirah.

Pemerintah Lebanon pun mengakui sudah ada peringatan bahwa senyawa kimia itu bisa meledak sewaktu-waktu. Namun hingga tragedi terjadi, peringatan itu hanya sebatas peringatan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement