Jumat 07 Aug 2020 14:36 WIB

Menilik Tata Kota Malang yang Terbaik di Hindia Belanda

Kota Malang dianggap sebagai kota yang memiliki perencanaan tata kota yang bagus.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Esthi Maharani
Suasana alun-alun Kota Malang di masa Hindia Belanda.
Foto: Dok. KITLV
Suasana alun-alun Kota Malang di masa Hindia Belanda.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Perencanaan Kota Malang di masa kolonial Hindia Belanda sempat dipuji banyak pihak. Tata kota yang menghabiskan waktu bertahun-tahun tersebut pernah diajukan ke Paris sebagai kota yang memiliki perencanaan yang bagus.

"Kota Malang bersama Semarang diajukan ke Paris sebagai kota yang punya perencanaan sangat bagus. Ini kenapa Malang saat ini demikian (penataannya bagus)," kata Pengajar Jurusan Arsitektur, Universitas Kristen Petra Surabaya, Handinoto.

Perencanaan tata Kota Malang tidak lepas dari peranan arsitek andal di dalamnya yakni Herman Thomas Karsten. Ia menjadi salah satu perencana kota terkenal di masa Hindia Belanda. Sebagian besar tata kota di Hindia Belanda merupakan hasil dari jerih payahnya.

"Setelah ada Undang-undang desentralisasi, orang perencana kota enggak banyak sehingga begitu (Malang) ditetapkan kota madya, ahlinya masih sangat sedikit. Dan Karsten selalu pergi dari kota ke kota lain untuk komandai hampir seluruh kota termasuk Kota Malang," jelas penulis buku Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang ini.

Pada tahapan awal, Karsten mengembangkan Malang dari wilayah Klojen Lor (sekarang area RS Saiful Anwar). Daerah ini sebelumnya terdapat benteng yang didirikan sejak zaman VOC sebagai tempat memantau aktivitas di dalam maupun luar kota. Kemudian daerah ini berkembang menjadi pemukiman Belanda di era kolonial.

Di tahapan selanjutnya, Karsten fokus mengembangkan pembangunan di alun-alun Kota Malang dan sekitarnya. Ada pula Stasiun Kota Baru Malang yang semula menghadap ke Jalan Panglima Sudirman. Kemudian Karsten mengubah stasiun untuk menghadap ke arah Jalan Trunojoyo.

Karsten mengubah arah stasiun karena dia tidak ingin Kota Malang berkembang menjadi seperti pita. Artinya, bentuk jalannya memanjang dari alun-alun ke Jalan Basuki Rahmat lalu Jalan JA Suprapto dan seterusnya. Konsep jalan pita tidak memiliki nilai estetika yang baik dari sisi arsitektur.

"Maka diputuskan buat akses jalan timur ke barat, dimulai dari timur di stasiun kemudian diakhiri di Museum Brawijaya. Jadi dari stasiun yang hadapnya ke Jalan Panglima Sudirman diubah ke Jalan Trunojoyo," ungkap Handinoto.

Setelah abad 20, banyak warga Eropa berpindah dan menetap di Kota Malang. Situasi ini membuat Karsten segera mengubah tata kota Malang lebih baru lagi. Ia ingin mendirikan pusat kota baru yang kemudian dibangun alun-alun bundar di dekat gedung Balai Kota Malang, sekolah dan sebagainya.

Proses pengembangan tata kota Malang berlanjut ke tahap kelima. Karsten meletakan perumahan modern khusus masyarakat Eropa dengan gaya arsitektur tinggi di jalan utama, Ijen Boulevard. Saat ini wilayah tersebut masih menjadi kawasan elit di Kota Malang. 

Perkembangan perencanaan kota Malang dari tahap satu sampai delapan sudah hampir lengkap sekitar 1937. Semuanya telah direncanakan dengan standarisasi yang tinggi. Bahkan, peraturan tata Kota Malang disebut menjadi yang terbaik di Hindia Belanda.

"Ada aturan lebar jalan dan sebagainya. Sebelum ada Undang-undangnya, Malang sudah menerapkan. Peraturan sudah semua lengkap sehingga Kota Malang ditetapkan paling maju. Bahkan, julukannya Kota Paris di Pulau Jawa," jelasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement