Jumat 07 Aug 2020 06:48 WIB

Turki: 75 Tahun Lalu, Prancis Bantai Rakyat Aljazair

Turki menuding Prancis selalu memojokkan mereka di forum internasional

Rep: İsmihan Özgüven/ Red: Elba Damhuri
Seorang fan Prancis mengibarkan bendera negaranya di Marseille
Foto: REUTERS/Stefano Rellandini
Seorang fan Prancis mengibarkan bendera negaranya di Marseille

REPUBLIKA.CO.ID, ADANA -- Negara terakhir di dunia yang akan berbicara tentang hak asasi manusia, hukum, keadilan, hak, dan penindasan adalah Prancis, ujar Ketua Parlemen Turki Mustafa Sentop.

Dalam sebuah acara di kota Adana, Turki, Ketua Parlemen Sentop pada Rabu mengungkapkan sejarah dua abad terakhir menunjukkan bahwa Prancis tidak mungkin dapat menghapus wajah hitam dan noda di dahinya.

Sentop menyinggung bahwa nenek moyangnya dahulu Ottoman selalu melestarikan kepercayaan, bahasa lokal, arsitektur lokal, budaya dan seni dengan baik di tanah kendali Kekaisaran Ottoman yang berkuasa selama ratusan tahun.

“Kami terus mempertahankan keyakinan, bahasa, budaya, dan seni mereka tanpa terputus,” imbuh Sentop.

Sentop menekankan bahwa bangsa Turki selalu memberikan contoh yang tak terlupakan soal perdamaian, ketenangan, dan kebebasan bagi umat manusia.

Menyinggung Prancis yang datang ke wilayah Adana untuk menguasai Turki, Sentop menekankan bahwa rakyat Turki telah memukul mundur dan memberikan pelajaran yang pantas kepada Prancis yang ingin menjajah wilayah Adana seratus tahun yang lalu.

“Tepat 75 tahun yang lalu, Prancis melakukan pembantaian di Aljazair hari ini. Mereka penjajah, barbar, bertindak senonoh dan brutal kepada semua manusia yang bukan dari mereka,” sebut Sentop.

“Prancis yang dijajah oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II, meminta bantuan dari pemuda Aljazair di bawah koloninya. Bahkan mereka menjanjikan kemerdekaan kepada Aljazair, namun ketika Prancis terbebas dari pendudukan, Prancis malah melakukan pembantaian di Aljazair.”

Menggarisbawahi Prancis secara terbuka dituduh melakukan berbagai kejahatan dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Sentop mengatakan bahwa Prancis saat ini juga masih memberikan dukungan kepada komplotan kudeta yang memberontak melawan pemerintah yang sah di Libya.

Selain itu, Sentop juga menyinggung perkembangan yang diraih Turki selama era Erdogan.

“Turki telah tumbuh pesat, berkembang, dan tumbuh kuat, berprinsip, etis, adil, serta berkontribusi sangat besar pada perdamaian dan solidaritas dalam politik internasional. Turki kini jadi suara yang diunggulkan dan lantang untuk mereka yang tertindas di dunia.”

“Presiden kami Recep Tayyip Erdogan telah menjadi pemimpin simbol yang menyerukan tatanan global yang adil di semua platform internasional,” tukas Sentop.

 

Link: https://www.aa.com.tr/id/dunia/prancis-negara-terakhir-di-dunia-yang-dapat-berbicara-ham-dan-keadilan/1933085

sumber : Anadolu Agency
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement