Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Bansos tidak Efektif, Peluang Resesi Semakin Besar

Jumat 07 Aug 2020 06:21 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Resesi ekonomi.

Resesi ekonomi.

Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Pemerintah dianjurkan segera menyiapkan skenario resesi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyebutkan, ekonomi Indonesia tidak akan terhindar dari resesi. Proyeksi ini setelah melihat penerapan jaring pengaman sosial yang kurang berdampak pada kehidupan masyarakat.

Tauhid memprediksi, pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga akan kontraksi 1,7 persen (yoy), setelah tumbuh negatif 5,32 persen (year on year/ yoy) pada kuartal kedua lalu. Artinya, terjadi kontraksi dua kuartal berturut-turut secara tahunan (yoy) yang menandakan resesi.

Baca Juga

Bahkan, Tauhid menjelaskan, tekanan pada ekonomi Indonesia sebenarnya terlihat dari pertumbuhan secara kuartalan yang negatif. "Ini berarti menandakan, bansos tidak ada efek, kurang nendang dan masih kurang efektif untuk dijalani," tuturnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (6/8).

Tauhid menganjurkan, pemerintah segera menyiapkan skenario resesi, alih-alih skenario pemulihan ekonomi. Pemerintah juga sebaiknya realistis dan tidak berlaga optimistis, sehingga bisa memberikan kesempatan bagi masyarakat maupun dunia usaha untuk menyiapkan skenario pencegahan.

Pemerintah patut belajar dari negara lain yang berpotensi dan sudah menghadapi resesi. Tauhid menyebutkan, mereka berani menyatakan jika pertumbuhan ekonomi negatif dan akan masuk ke jurang resesi.

"Ini bertujuan untuk membangun mitigasi dari masyarakat dan dunia usahanya. Australia, Korea Selatan misalnya, dari jauh hari sudah menyatakan akan resesi," katanya.

Di sisi lain, Tauhid menjelaskan, pemerintah juga harus mempersiapkan berbagai kebijakan. Khususnya yang bisa membangun kepercayaan dari masyarakat dan dunia usaha untuk melewati bersama-sama dampak pandemi.

Salah satu kebijakan yang harus menjadi prioritas adalah percepatan realisasi berbagai program bantuan sosial. Berdasarkan catatan Tauhid, realisasi penyaluran bantuan sosial sebagai bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) kini baru berada di level 29 persen.

Perluasan jangkauan juga harus dilakukan dan didominasi ke masyarakat menengah ke  bawah. "Karena mereka akan langsung mengonsumsinya," ujar Tauhid. 

Peluang resesi juga disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ia tidak menampik adanya kemungkinan perekonomian Indonesia pada kuartal ketiga kembali tumbuh negatif mengingat kontraksi yang sangat dalam pada kuartal kedua. Di sisi lain, banyak sektor yang ikut tertekan dan sulit untuk kembali ke situasi baik.

"Memang probabilitas negatif (pada kuartal ketiga) masih ada karena penurunan sektor tidak bisa segera cepat pulih," ucap Sri dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (5/8).

Tapi, Sri memastikan, pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi resesi dan kemungkinan dampaknya ke masyarakat. Tidak hanya otoritas fiskal, Sri turut menekankan keterlibatan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjaminan Simpanan dalam mendorong perekonomian.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA