Kamis 06 Aug 2020 06:21 WIB

Ekonomi Minus, Sektor Transportasi Ambruk

Sektor transportasi menjadi lapangan usaha yang mengalami minus terdalam.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Ilustrasi penerbangan
Ilustrasi penerbangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tahun ini untuk pertama kalinya mengalami kontraksi hingga minus 5,32 persen. Laju pertumbuhan itu terendah sejak masa krisis tahun 1999 silam.

Sektor transportasi menjadi lapangan usaha yang mengalami minus terdalam dari 17 sektor lapangan usaha yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data BPS menunjukkan sektor transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan minus hingga 30,84 persen.

Baca Juga

Suhariyanto mengatakan, ambruknya pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan karena adanya berbagai pembatasan aktivitas. Di mulai dari imbauan work from home hingga larangan mudik Lebaran pada Mei lalu.

Di satu sisi, terjadi penurunan aktivitas kargo untuk pengiriman barang. "Kalau dilihat, yang paling terpukul adalah transportasi udara. Tapi kontraksi terjadi pada semua sektor transportasi," kata Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (5/8).

Angkutan udara, berdasarkan catatan BPS pada kuartal II 2020 mengalami kontraksi hingga minus 80,23 persen. Selanjutnya diikuti angkutan rel minus 63,75 persen, pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurir minus 38,69 persen, serta angkutan sungai danau dan penyeberangan minus 26,66 persen.

Kemudian, angkutan darat turut minus 17,65 persen dan angkutan laut minus 17,48 persen. Suhariyanto mengatakan, akibat kontraksi yang terjadi pada semua lini transportasi, sektor transportasi dan pergudangan menjadi sumber kontraksi tertinggi pertumbuhan ekonomi dari sisi lapangan usaha. Yakni menyumbang kontraksi hingga minus 1,29 persen.

Suhariyanto pun berharap agar semua pihak optimistis pertumbuhan ekonomi kembali membaik pada kuartal III 2020. Ia menilai, peluang membaiknya perekonomian terbuka karena geliat ekonomi sudah mulai berjalan sejak akhir kuartal II atau bulan Juni 2020.

"Awal Juni sudah ada geliat dibanding Mei meski masih jauh dari kata normal. Kita harus bergandengan tangan, optimistis agar (ekonomi) semakin bergerak," kata Suhariyanto.

Seperti diketahui, penerapan era normal baru mulai diterapkan pemerintah sejak Juni lalu. Di mana, pembukaan sektor-sektor ekonomi sedikit demi sedikit dibuka jika situasi penyebaran Covid-19 mulai mereda di suatu daerah.

Beberapa indikator pada bulan Juni lalu mulai mengalami perbaikan. Di antaranya, kegiatan transportasi udara internasional mengalami kenaikan dari Mei ke Juni sebesar 54,7 persen.

Transportasi udara domestik juga mengalami kenaikan signifikan hingga 791,38 persen. Begitu pula pada angkutan kereta api penumpang naik 69,4 persen dan angkutan laut penumpang naik 134,10 persen.

Di sektor pariwisata, tingkat penghunian kamar (TPK) dari Mei ke Juni naik 5,25 poin. Sementara sektor industri, diliat dari angka Purchasing Manager's Index (PMI) dari lembaga IHS Markit turut naik, dari posisi Mei 28,6 menjadi 39,1 di Juni. 

"Meski masih jauh dari normal, kita harap di bulan Juli, Agustus, dan September (kuartal III) 2020 akan terus meningkat," kata Suhariyanto.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement