Selasa 04 Aug 2020 16:03 WIB

Universitas Dukung Kementan Kembangkan Diversifikasi Pangan

Fakultas pertanian Brawijaya sedang mengenbangkan sistem pertanian terintegrasi

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Hiru Muhammad
Petani memanen padi di sebuah sawah di samping gedung sekolah dan perkantoran di Paron, Ngawi, Jawa Timur, Senin (3/8/2020). Dinas pertanian setempat mencatat luas lahan pertanian di kawasan lumbung padi tersebut berkurang dari 50.550 hektare menjadi 50.197 hektare karena beralih fungsi menjadi perumahan, industri dan infrastruktur sehingga berdampak pada menurunnya produksi gabah dan dikhawatirkan mengganggu tingkat ketahanan pangan.
Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Petani memanen padi di sebuah sawah di samping gedung sekolah dan perkantoran di Paron, Ngawi, Jawa Timur, Senin (3/8/2020). Dinas pertanian setempat mencatat luas lahan pertanian di kawasan lumbung padi tersebut berkurang dari 50.550 hektare menjadi 50.197 hektare karena beralih fungsi menjadi perumahan, industri dan infrastruktur sehingga berdampak pada menurunnya produksi gabah dan dikhawatirkan mengganggu tingkat ketahanan pangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Dekan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Daman Huri mendukung gerakan diversifikasi pangan lokal dan family farming Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mencapai kemandirian pangan. Dukungan itu salah satunya dengan melibatkan mahasiswa untuk terlibat langsung pada program sistem pertanian terintegrasi Universitas Brawijaya.

"Fakultas Pertanian Brawijaya sekarang lagi mengembangkan sistem pertanian terintegrasi dan lestari. Dimana kami sudah merancang bidang sub tanaman yang terintegrasi dengan peternakan dan perikanan," kata Daman Huri di Kantor Pusat Kementan, Selasa (4/8)

Menurutnya, sistem pertanian terintegrasi adalah pengembangan sub pertanian mahasiwa Brawijaya dalam memanfaatkan lahan pertanian menjadi area peternakan dan perikanan. Karena itu, kata dia, mahasiswa dan masyarakat bisa saling bekerja sama melakukan budidaya ikan, pakan ikan dan hasil pertanian.

"Contoh, kami melakukan budidaya jamur kemudian limbah baglognya dicampur dengan kotoran hewan menjadi media cacing. Kemudian dari hasil budidaya itu akan menghasilkan vermikompos dan selanjutnya menjadi media tanam untuk sayuran," katanya.

Ia menegaskan, semua sistem ini sudah diuji coba berkali-kali dengan hasil memuaskan karena tidak ada sampah atau kotoran hewan yang terbuang secara sia-sia. Bahkan, dia mengklaim sistem pertanian Brawijaya memiliki tingkat keramahan lingkungan tinggi alias zero waste."Semua limbah tidak ada yang terbuang karena secara otomatis bermanfaat bagi semua sistem tanam," katanya.

Senada dengan Daman Huri, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila), Irwan Sukri Banua mengatakan, gerakan pangan lestari sangat tepat dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional.

"Menurut saya program dan gerakan ini sangat luar biasa untuk banyak aspek. Salah datunya adalah pencegahan dan penanganan pengendalian Covid-19. Dengan demikian, ketahanan pangan nasional benar-benar meningkat untuk memproduksi bahan pangan yang cukup memadai," katanya.

Di Lampung, kata Irwan, Unila sudah merancang program ketahanan pangan dengan melibatkan lembaga dan instansi lain untuk peningkatan berbagai komoditas pangan."Kita libatkan juga kelompok mahasiswa tingkat akhir dari fakultas Pertanian Lampung untuk terlibat dalam program pemanfaatan lahan pekarangan lestari ini. Ke depan, kami akan melibatkan masyarakat secara luas," tuturnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng enam perguruan tinggi untuk memperluas pendampingan dalam program pekarangan pangan lestari (P2L) demi membantu ketahanan pangan nasional. Lewat pendampingan  perguruan tinggi, program itu diharap lebih masif untuk diterapkan masyarakat.

Keenam perguruan tinggi itu di antaranya, Universitas Negeri Lampung, IPB University, Universitas Gadjah mada, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, serta Universitas Lambung Mangkurat. Penandatanganan kerja sama dilakukan di Kantor Pusat Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (4/8).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, masalah pangan yang amat kompleks saat ini tidak dapat ditangani sendiri oleh pemerintah pusat. Karena itu, dibutuhkan peran berbagai lembaga, termasuk perguruan tinggi yang dapat lebih dekat dengan masyarakat."Dampak Covid-19 sangat luas sekali dan kita masuk dalam suasana daruat. Perlu ada konsep teori dan implementasi di lapangan yang tepat supaya program ini berhasil," kata Syahrul.

Ia menjelaskan, memberdayakan pekarangan rumah untuk dimanfaatkan sebagai lahan budidaya tanaman menjadi cara bertindak kedua Kementan untuk menjaga ketahanan pangan di masa pandemi. Diharapkan pula, dengan menggunakan pekarangan, pangan lokal dapat lebih disentuh sehingga membantu diversifikasi pangan ke non beras. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement