Senin 03 Aug 2020 20:55 WIB

Teladan Nabi Khidir AS dan Covid-19 yang Serba Misterius

Teladan Nabi Khidir mengajarkan kesebaran menghadapi perkara misterius.

Teladan Nabi Khidir mengajarkan kesebaran menghadapi perkara misterius. Rapid Test (Ilustrasi).
Foto: Republika/Prayogi
Teladan Nabi Khidir mengajarkan kesebaran menghadapi perkara misterius. Rapid Test (Ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Drs Saiful Umam, MH PhD, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

Baca Juga

Dalam perayaan Idul Adha yang baru lewat, berqurban menjadi pesan penting dan utama. Meneladani Nabi Ibrahim dalam hal ketakwaan dan keteguhan serta kepasrahan beliau menjalankan perintah Tuhan merupakan hikmah penting dari prilaku berqurban. Selain Nabi Ibrahim, saya kira penting juga kita meneladani Nadi Khidir dalam prilaku kehidupan kita sehari-hari, khususnya ketika pandemi akibat Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. 

Prilaku yang patut kita teladani dari Nabi Khidir adalah melakukan tindakan yang sekilas tidak umum, aneh, dan bahkan ekstrem, tapi dapat menghindarkan diri kita dari akibat yang lebih buruk di kemudian hari. 

Dalam kisah tentang orang-orang suci dalam Islam, Nabi Khidir adalah tokoh yang istimewa. Dia adalah satu dari empat Nabi yang oleh sebagian umat Islam diyakini telah diangkat dan dimasukkan ke surga oleh Allah dalam keadaan masih hidup, alias tidak meninggal lebih dulu. Tiga lainnya adalah Nabi Idris, Ilyas, dan Isa (Annemarie Schimmel, 1975:202). Meski Nabi Khidir sendiri dianggap tidak termasuk dalam kategori Rasul, kisah tentangnya sering dibahas dan dijadikan bahan pembelajaran.

Pertemuannya dengan Nabi Musa, yang seorang Rasul, dan bagaimana dia membuat Nabi Musa tidak berhasil menjadi muridnya karena melanggar aturan yang telah digariskan, sebagaimana termaktub dalam Alquran surat Al-Kahfi [18]:65-82, adalah kisah yang sarat dengan nilai dan hikmah.

Tiga kejadian

Dalam Tafsir Jalalayn, diceritakan bahwa awalnya Nabi Musa ditanya salah satu umatnya, siapa orang paling pandai di muka bumi ini. Musa langsung menjawab, ‘saya’. Jawaban Musa yang bernada sombong ini langsung mendapat tegura dari Tuhan karena ada hamba lain yang punya pengetahuan lebih tinggi. Mendapat teguran begitu, Musa kemudian ingin berguru kepada orang tersebut, yakni Nabi Khidir. Pergilah Musa ditemani seorang pembantunya ke wilayah seperti dalam petunjuk yang diterimanya. 

Singkat kata, setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Musa berjumpa dengan Nabi Khidir. Musa langsung menyatakan keingingannya utuk beguru kepadanya. Namun Khidir tidak langsung menerimanya. Bahkan dia meragukan Musa akan bisa bersabar menjadi muridnya. Akhirya, Khidir memberi syarat. Jika ingin berguru kepadanya, jangan menanyakan (tepatnya, protes) atas apa yang akan dia lakukan.

Dalam ayat-ayat berikutnya dikisahkan ada tiga kejadian yang membuat Musa gagal menjadi muridnya karena dia selalu mempertanyakan apa yang dilakukan Khidir. Pertama, saat mereka menaiki perahu nelayan dan tiba-tiba Nabi Khidir melubangi perahu tersebut. Nabi Musa secara spontan mempertanyakan tindakan Khidir tersebut karena menganggapnya akan merusak dan membuat kapal karam. Mendengar pertanyaan Musa, Khidir langsung mengingatkan janjinya untuk tidak protes atas apa yang dilihatnya. Musa menyadari kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya. 

Kejadian kedua, saat mereka berjumpa seorang anak kecil dan tiba-tiba Khidir membunuhnya. Tidak menerima tindakan Khidir tersebut, Musa langsung protes, mengapa dia membunuh seseorang yang tidak berdosa. Kembali Khidir mengingatkan janjinya. Musa sadar bahwa dia telah melanggar janji untuk kedua kali. Lalu dia menyampaikan, jika sekali lagi bertanya, maka putus sudah hubungan mereka.

Setelah itu, diajaklah Musa mengunjungi sebuah desa. Karena merasa haus dan lapar, mereka minta jamuan ke penduduk desa tersebut. Tak ada satupun peduduk yang sudi menjamu mereka. Namun saat melihat sebuah bangunan hampir rubuh, Khidir mengajak Musa memperbaikinya. Spontan Musa komentar, seharusnya kita minta upah ke penduduk kampung untuk memperbaiki bangunan tersebut. Komplain Musa tersebut menandai ketidak-mampuannya menjaga janji untuk tidak mempertanyakan apa yang dilakukan Khidir. Protes ketiga ini juga sekaligus mengakhiri perjumpaan mereka. 

Sebelum berpisah, Khidir menceritakan mengapa dia melakukan tiga hal yang membuat Musa tak mampu menahan kesabarannya. Pertama, kapal tersebut milik orang miskin dan di depan mereka ada penguasa zalim yang suka merampas kapal. Dengan dirusak, penguasa tidak akan mengambilnya. Kedua, anak kecil itu punya orang tua yang mu’min. Namun kalau dia tumbuh dewasa dia akan merusak keimanan kedua orang tuanya. Oleh karena itu, Khidir berharap kedua orang tua tersebut mendapat ganti dari Allah anak yang salih. Sedang terakhir, bangunan tersebut menyimpan harta peninggalan milik dua anak yatim. Kedua orang tua mereka adalah orang baik sehingga diharapkan simpanan tersebut aman dan  sampai ke tangan mereka saat dewasa.

photo
Muslim mengenakan masker dan menjaga jarak sosial shalat Idul Adha di Masjid Mohammad al-Amin di Beirut, Lebanon, Jumat (31/7/2020). - (AP / Hassan Ammar)

Hikmah dan teladan

Oleh para ulama, kisah perjumpaan Nabi Musa dan Nabi Khidir ini mengandung sejumlah hikmah. Pertama, dan yang sering diceritakan, seseorang tidak boleh sombong dengan ilmu yang dimilikinya. Di atas langit ada langit, alias akan selalu ada orang yang lebih pandai daripada seseorang yang pandai. Kedua, pentingnya posisi guru.

Terakhir, perlunya mengikuti perintah dan aturan yang ditetapkan guru jika ingin belajar darinya. Namun menurut saya, kisah tersebut juga mengandung hikmah dan teladan lain, yakni pentingnya menghindari melakukan tindakan tertentu untuk menghindari kerugian yang lebih buruk. Semua yang dilakukan Nabi Khidir bertujuan untuk menghindarkan orang-orang di sekitarnya dari mudharat yang lebih besar

Bagi yang tidak paham, seperti Musa saat itu, apa yang dilakukan Khidir adalah tindakan ektrem, apalagi dalam kejadian kedua. Tapi Khidir yang diberi anugrah oleh Allah, dapat melihat apa yang akan terjadi di kemudian hari. Oleh karena itu dengan yakin dia lakukan tindakan-tindakan tersebut demi untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Hikmah inilah yang penting kita ambil dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari, tatkala pandemi Covid-19 masih menghantui. Bagiamana caranya?

Sebagai manusia biasa tentu kita bisa bertindak seperti Nabi Khidir. Kita tidak tahu secara pasti apa yang akan terjadi dengan kita di masa datang. Kita juga tidak tahu siapa di antara kawan atau kolega kita yang akan tertular virus terebut dan dimana tertularnya, sehingga bisa memberi perintah ke mereka untuk menghindari tempat tersebut. Tapi bukankah dari para ilmuwan, terutama yang mendalami masalah epidemi dan virus, kita tahu bagaimana sifat virus Corona ini. Juga, bagaimana ia berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain dan juga bermutasi. 

Bekal pengetahuan dari para ilmuwan itulah yang harus kita terapkan dalam menghindarkan diri kita dari kemungkinan terpapar dan teriveksi. Kita harus bisa menghentikan kebiasan-kebiasaan lama yang memungkinkan virus masuk ke tubuh kita, menghindari tempat-tempat keramaian dan tidak bersalaman, misalnya. 

Tentu kita jenuh, harus berdiam diri di rumah dan tidak bepergian kecuali untuk urusan yang sangat penting. Tapi semua itu harus kita lakukan sebagai tindakan preventif agar tidak tertular, sekaligus sebagai upaya membatasi penyebaran virus yang membahayakan itu.

Jika terpaksa harus bertemu orang lain, kita perlu menjaga diri kita dengan mengenakan masker, menjaga jarak, dan menjaga kebersihan tubuh, terutama tangan kita. 

Mengambil teladan dari Nabi Khidir, sudah saatnya pemerintah atau institusi yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan tindakan tegas dan terukur, kalau perlu ekstrem, dalam menghindarkan warga negara dari kondisi yang lebih buruk di masa mendatang.  

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement