Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Rupiah Melemah karena Ancaman Resesi Indonesia

Senin 03 Aug 2020 16:53 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha

Petugas menunjukkan angka pada kalkulator di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Jakarta, Rabu (22/7/2020). Pada perdagangan hari ini, Rabu (22/7/2020) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 91 poin di level Rp14.650 per USD dari penutupan sebelumnya Rp14.741 per USD.

Petugas menunjukkan angka pada kalkulator di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Jakarta, Rabu (22/7/2020). Pada perdagangan hari ini, Rabu (22/7/2020) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 91 poin di level Rp14.650 per USD dari penutupan sebelumnya Rp14.741 per USD.

Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga
Pelemahan rupiah juga dipengaruhi sentimen domestik seperti PSBB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks dolar Amerika Serikat menguat di hari Senin (3/8) dipengaruhi beberapa sentimen global dan domestik. Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi menyampaikan dalam perdagangan sore ini rupiah ditutup melemah 30 poin di level Rp 14.630 dari penutupan sebelumnya di level Rp 14.600.

"Dalam perdagangan besok, rupiah kemungkinan masih akan fluktuatif namun ditutup melemah 30-50 poin di kisaran Rp 14.625-Rp 14.680," katanya kepada wartawan.

Baca Juga

Pelemahan rupiah di antaranya dipengaruhi sentimen domestik, seperti transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diperpanjang dua minggu kedepan. Menurutnya, ini akan berakibat fatal terhadap pertumbuhan ekonomi (PDB) kuartal ketiga yang mengalami penurunan bahkan bisa saja terjadi kontraksi.

Ini membuat Indonesia bisa masuk dalam fase Resesi apabila dua kuartal berturut-turut terjadi kontraksi. Menurutnya, guna untuk menghindari resesi tersebut, Gubernur DKI Jakarta harus berani dalam dua minggu kedepan menjadikan masa PSBB transisi menjadi masa PSBB New

"Sehingga perekonomian kembali normal dan bisa menggenjot laju pertumbuhan di sisa bulan di kuartal ketiga," katanya.

Selain itu, terdapat sentimen dari pasar global. Pasar memiliki alasan untuk khawatir tentang prospek ekonomi AS yang melambat akibat pendemi virus corona yang terus meningkat mengakibatkan rilis PDB kuartal kedua mengalami kontraksi yang mengakibatkan AS memasuki fase resesi.

Selain itu, defisit fiskal AS yang meningkat untuk membiayai stimulus mendorong Fitch Ratings untuk merevisi prospek peringkat triple-A Amerika Serikat menjadi negatif dari stabil. Pasar juga mengawasi ketegangan yang meningkat antara Washington dan Beijing di banyak bidang, termasuk perdagangan, teknologi, dan geopolitik.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA