Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Tak Ada Laporan, Polisi Kesulitan Dalami Kasus Fetish Jarik

Senin 03 Aug 2020 14:46 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ratna Puspita

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko

Foto: Republika/Dadang Kurnia
15 orang yang mengadu ke Unair juga masih sumir karena tak ada identitas.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Polda Jawa Timur (Jatim) masih melakukan penyelidikan awal terkait kasus pelecehan seksual fetish jarik berkedok riset oleh mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) berinisial G. Polisi menyatakan adanya keterbatasan untuk mendalami kasus tersebut karena hingga kini tidak ada pengaduan yang sah dari para saksi korban.

"Kita kan masih memiliki keterbatasan untuk adanya laporan pengaduan secara sah dari para saksi korban khususnya," ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (3/8).

Baca Juga

Trunoyudo mengakui, sebenarnya Polda Jatim telah menjalin kerja sama dengan pihak kampus yang telah membuka posko pengaduan. Posko pengaduan Unair telah menerima 15 aduan dari orang yang mengaku menjadi korban dalam kasus tersebut. 

Namun ternyata, aduan tersebut belum bisa dijadikan dasar penyelidikan kasus lebih mendalam karena para pengadu enggan mengungkap identitasnya. "Ada sekitar 15 orang yang mengadu. Namun masih sumir karena belum mencantumkan identitasnya secara jelas dan pasti," kata Trunoyudo.

Karena itu, lanjut Trunoyudo, penyidik dari Ditreskrimsus dan Ditreskrimum Polda Jatim membuka layanan posko pengaduan secara langsung. Trunoyudo mengimbau mereka yang merasa menjadi korban dalam kasus tersebut, agar bisa segera melapor melalui nomor kontak 082143578532.

"Ini dalam rangka untuk memberikan suatu jalur khusus pengaduan. Sehingga bisa terlindungi dan bisa dirahasiakan khususnya untuk perlindungan saksi awal dari penyidik. Nanti kita juga bekerja sama dengan lembaga perlindungan saksi dan korban," ujar Trunoyudo.

Terkait konstruksi kasus, Trunoyudo menegaskan kepolisian masih melakukan penyelidikan. Karena kasus ini merupakan delik aduan, dia kembali mengimbau dan mengharapkan saksi korban bisa segera melapor. 

"Supaya tuntas kejadian ini dapat diungkap dan kemudian utk terduga juga belum kita lakukan pemanggilan karena prosesnya masih penyelidikan," kata Trunoyudo.

Universitas Airlangga (Unair) Surabaya sebelumnya menerima 15 aduan melalui help center yang dibuka terkait kasus pelecehan seksual fetish jarik berkedok riset oleh mahasiswa berinisial G. "Ini bagian dari komitmen kami untuk ikut menyelesaikan kasus tersebut," ujar Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) Unair Suko Widodo.

Meski telah menerima pengaduan, Unair masih kesulitan menggali data karena rata-rata korban enggan membuka identitas mereka. Suko meminta siapapun yang merasa menjadi korban mahasiswa G segera menghubungi help center, yakni melalui helpcenter.airlangga@gmail.com atau menghubungi via nomor telepon 081615507016.

"Di help center tersebut nanti para korban akan didampingi psikolog untuk membantu menyelesaikan persoalan itu," katanya.

Sebelumnya di media sosial dari thread pemilik akun Twitter mufis @m_fikris. Ia mengaku menjadi korban pelecehan yang seksual yang dilakukan pria bernama Gilang. Akun Twitter tersebut membagikan cerita tersebut karena tidak ingin ada korban lain. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA