Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

Marah-Marah, Duterte Minta Dokter Filipina Tetap Optimis

Senin 03 Aug 2020 13:46 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Foto: Ace Morandante/Fotografer Istana Malacanang v
Duterte memberikan pidato terkait penanganan Covid-19 oleh dokter Filipina

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Presiden Filipina, Rodrigo Duterte meminta kepada seluruh tenaga medis agar tetap optimistis dan tidak menyerah dalam menangani pasien yang terinfeksi virus corona. Hal itu disampaikan oleh Duterte setelah 80 organisasi dokter dan perawat menyatakan bahwa Filipina telah kehilangan pertarungan dalam melawan pandemi virus corona.

"Saya telah mendengar Anda. Jangan kehilangan harapan. Kami menyadari bahwa Anda lelah," ujar Duterte dalam sebuah pidato di televisi, dilansir Aljazirah, Senin (3/8).

Baca Juga

Filipina mencatat 5.032 kasus harian pada Ahad (2/8). Jumlah tersebut merupakan peningkatan satu hari terbesar di negara itu. Dengan demikian total kasus virus corona menjadi 103.185 dan jumlah kematian menjadi 2.059. Duterte berjanji akan mempekerjakan 10.000 tenaga medis tambahan untuk bergabung bersama dengan tim Covid-19.

Namun dalam pidatonya pada Senin pagi, Duterte mengkritik para dokter yang mengemukakan kekhawatiran tentang sistem kesehatan Filipina dengan mendeklarasikan sebuah revolusi. Tidak diketahui mengapa Duterte menyinggung masalah revolusi, padahal organisasi dokter dan perawat dalam pernyataannya tidak menyebutkan tentang sebuah pergerakan untuk melawan pemerintah.

"Kalian benar-benar tidak mengenal saya. Kalian ingin revolusi? Kalau begitu katakan. Silakan, coba saja. Kami akan menghancurkan segalanya. Kami akan membunuh semua orang yang terinfeksi Covid-19," ujar Duterte dengan nada marah.

Sebelumnya sekitar 80 kelompok organisasi yang mewakili 80.000 dokter dan satu juta perawat menyatakan, perjuangan pemerintah Filipina untuk melawan pandemi virus corona mulai melemah. Selain itu, mereka memperingatkan bahwa sistem kesehatan mulai kewalahan di tengah melonjaknya jumlah kasus yang cukup tinggi. Para tenaga medis menyerukan agar pemerintah kembali memberlakukan lockdown.

Juru bicara presiden, Harry Roque mengatakan, Presiden Duterte telah menyetujui pemberlakukan lockdown lebih ketat di Metro Manila, Laguna, Cavite, Rizal, dan Bulacan. Pemerintah memberlakukan Modified Enhanced Community Quarantine (MECQ) hingga 18 Agustus. Beberapa bisnis dan angkutan umum di ibu kota akan ditutup. Sementara, izin kerja dan karantina akan diwajibkan karena pihak berwenang berupaya membatasi pergerakan orang.

Beberapa sekutu presiden menyarankan agar lockdown tidak diberlakukan lagi, karena dapat melumpuhkan perekonomian. Namun, lonjakan kasus virus corona yang tak terbendung membuat pemerintah harus memberlakukan lagi pembatasan sosial secara ketat.

Pada pertengahan Maret, Duterte membarlakukan lockdown dengan periode paling panjang dan paling ketat di dunia untuk menghentikan penyebaran virus corona. Dia mulai mengurangi pembatasan pada Juni sebagai upaya untuk menghidupkan lagi perekonomian yang kini menghadapi kontraksi terbesar dalam tiga dekade. Namun, ketika pembatasan dilonggarkan jumlah kasus infeksi justru meningkat drastis. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA