Senin 03 Aug 2020 00:59 WIB

Ribuan Nelayan di Aceh Barat tak Melaut Akibat Cuaca Buruk

Hasil tangkapan nelayan di daerah ini mengalami penurunan drastis karena cuaca

Nelayan keramba menggunakan perahu menuju keramba budidaya ikan kerapu di daerah aliran sungai Cunda, Lhokseumawe, Aceh. (ilustrasi)
Foto: ANTARA/rahmad
Nelayan keramba menggunakan perahu menuju keramba budidaya ikan kerapu di daerah aliran sungai Cunda, Lhokseumawe, Aceh. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MEULABOH -- Ribuan nelayan di Kabupaten Aceh Barat sejak sepekan terakhir tidak melaut akibat cuaca buruk yang melanda sebagian besar wilayah pantai barat dan selatan Aceh, karena tingginya gelombang laut mencapai enam meter di Samudera Hindia. Akibatnya, hasil tangkapan nelayan di daerah ini mengalami penurunan drastis karena cuaca yang tidak bersahabat.

Panglima Laut Kabupaten Aceh Barat, Amiruddin di Meulaboh, Ahad (2/8) mengatakan hingga kini banyak kapal nelayan tradisional di daerah ini tidak melaut. Kapal-kapla mereka terpaksa ditambatkan di sepanjang aliran sungai di Meulaboh, karena cuaca buruk.

Baca Juga

“Selama badai dan tingginya gelombang, hasil tangkapan nelayan berkurang drastis. Ini berimbas pada ekonomi masyarakat nelayan,” kata Amiruddin.

Menurutnya, dampak fenomena alam yang terjadi sepekan terakhir menyebabkan para nelayan di daerah ini sementara waktu harus meliburkan aktivitas mereka, dan sementara beralih ke profesi lain untuk menambah pendapatan keluarga.

Namun khusus untuk kapal dengan kapasitas 10 grosston (GT), kata Amiruddin, sejauh ini masih berupaya melaut dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari bibir pantai, guna memenuhi kebutuhan ikan segar bagi masyarakat di Aceh Barat.

“Khusus kapal 10 GT yang berlabuh juga kita wajibkan memakai peralatan canggih seperti GPS atau radio komunikasi, sebagai syarat bisa melaut ditengah badai saat sekarang ini,” katanya.

Penggunaan peralatan canggih dan tersambung dengan citra satelit tersebut juga dimaksudkan agar otoritas terkait termasuk organisasi panglima laut di Aceh Barat, lebih mudah melakukan pemantauan dan komunikasi dengan ABK dan nelayan saat berada di laut lepas.

“Kalau ada sesuatu yang darurat, tentu kita bisa mengambil langkah cepat untuk membantu nelayan. Karena saat ini cuaca sangat ekstrim di laut,” kata Amiruddin.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement