Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Anak Sama Mudahnya dengan Dewasa dalam Tularkan Covid-19

Jumat 31 Jul 2020 13:23 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda

Siswa sekolah Sam Khok mengenakan masker wajah dan pelindung wajah terlihat di dalam kotak suara tua yang dipecah menjadi beberapa partisi saat mereka menghadiri kelas setelah pemerintah Thailand melonggarkan langkah-langkah isolasi dan memperkenalkan jarak sosial untuk mencegah penyebaran penyakit coronavirus (Covid-19), sebagai sekolah yang dibuka kembali secara nasional, di provinsi Pathum Thani, Thailand, 1 Juli 2020.

Siswa sekolah Sam Khok mengenakan masker wajah dan pelindung wajah terlihat di dalam kotak suara tua yang dipecah menjadi beberapa partisi saat mereka menghadiri kelas setelah pemerintah Thailand melonggarkan langkah-langkah isolasi dan memperkenalkan jarak sosial untuk mencegah penyebaran penyakit coronavirus (Covid-19), sebagai sekolah yang dibuka kembali secara nasional, di provinsi Pathum Thani, Thailand, 1 Juli 2020.

Foto: REUTERS/ATHIT PERAWONGMETHA
Temuan soal penularan Covid-19 oleh anak membayangi pembukaan sekolah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus penularan Covid-19 sering kali dikaitkan dengan usia dewasa dan lanjut usia (lansia). Rupanya, proses penyebaran melalui anak-anak juga tidak berbeda dengan usia dewasa.

Studi terbaru menunjukkan bahwa anak dapat menyebarkan Covid-19 sama mudahnya dengan orang dewasa. Dikutip laman Today, Jumat (31/7), Peneliti di Lurie Children's Hospital of Chicago, AS mengungkap, anak-anak di bawah usia lima tahun (balita) dapat membawa virus corona dalam hidung mereka seperti halnya orang dewasa. 

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics itu meningkatkan kemungkinan paparan virus corona, bahkan jika anak-anak tidak sampai jatuh sakit. Taylor Heald-Sargent, spesialis penyakit menular anak di Lurie Children's, dan rekannya menganalisis data dari tes diagnostik 145 pasien Covid-19 yang memiliki kasus penyakit ringan hingga sedang.

Tes itu bertujuan mencari potongan-potongan RNA virus, atau kode genetik, untuk membuat diagnosis. Sebanyak 145 pasien dibagi menjadi tiga kelompok, antara lain, mereka yang berusia di bawah lima tahun, lima hingga 17 tahun, dan orang dewasa berusia 18 hingga 65 tahun.

"Anak-anak memiliki muatan virus RNA yang setara, kalau tidak lebih banyak, dibandingkan dengan anak yang lebih tua dan orang dewasa," kata Heald-Sargent.

Dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak memiliki 10 hingga 100 kali jumlah muatan virus di saluran pernapasan atas mereka. Temuan itu mendukung gagasan bahwa balita dapat terinfeksi dan mereplikasi serta menularkan virus seperti halnya anak-anak yang usianya lebih tua maupun orang dewasa.

Beberapa anak diketahui punya kondisi yang berpotensi mematikan, disebut sindrom inflamasi multisistem atau MIS-C, yang diyakini terkait dengan Covid-19. Memang, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai temuan ini. Studi tersebut juga memicu kekhawatiran berlebih tentang pembukaan sekolah kembali.

Dr Rick Malley, seorang dokter senior di pediatri di divisi penyakit menular di Rumah Sakit Anak Boston menyatakan, kalaupun muatan virus pada usia anak lebih tinggi, bukan berarti penyebarannya juga bisa lebih besar. "Kami tidak tahu pasti," kata Malley, yang tidak terlibat dengan studi baru itu.

Bagaimanapun pembukaan sekolah kembali nantinya memang harus tetap dengan standar atau protokol yang aman. Pihaknya belum memiliki bukti bahwa anak-anak akan memainkan peran yang sama seperti orang dewasa terkait penyebaran virus.

Baca Juga

"Cukup jelas bahwa anak-anak dengan flu adalah pendorong utama penyebaran, namun Covid-19 bertingkah secara tidak terduga," kata Malley.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA