Kamis 30 Jul 2020 19:20 WIB

Ety binti Toyib Silaturahim ke PBNU

Kiai Said mengucapkan rasa syukur atas tibanya Ety binti Toyib di Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menerima silaturahim Ety binti Toyib ke PBNU secara virtual, Kamis (30/7).
Foto: Dok Istimewa
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menerima silaturahim Ety binti Toyib ke PBNU secara virtual, Kamis (30/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menerima silaturahim Ety binti Toyib ke PBNU secara virtual, Kamis (30/7). Ety datang bersama anak sulung dan pihak BP2MI pada pukul 14.00 WIB. 

Hadir pula pada pertemuan itu Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, Ketua PBNU H Robikin Emhas, dan Ketua NU Care-LAZISNU H Achmad Sudrajat. 

 

“Selamat datang kembali Ibu Ety di Tanah Air,” ucap Kiai Said saat menyampaikan kata sambutan jarak jauh melalui zoom

Kiai Said lantas mengucapkan rasa syukur atas tibanya Ety binti Toyib di Indonesia. Kiai Said berharap apa yang dialami Ety menjadi pelajaran untuk masyarakat Indonesia, utamanya para TKI di sejumlah negara tetangga.

 

Sebelumnya, Eti binti Toyib terjerat kasus hukum di Arab Saudi dinyatakan resmi bebas dari hukuman mati di Arab Saudi setelah mampu membayar diyat (denda) sebesar Rp15, 5 miliar.

Sebanyak 80 persen denda tersebut dibantu Nahdlatul Ulama yang diupayakan NU Care LAZISNU. Achmad Sudrajat menuturkan, untuk mendapatkan uang sebesar itu, LAZISNU selama tujuh sampai delapan bulan berusaha menemui banyak kalangan, mulai dari para kiai, santri, pejabat, pengusaha, dan masyarakat umum.  

“Komunikasi ini kita bangun dengan berbagai jejaring dan terutama komunitas NU dan lembaga-lembaga yang tertarik kepada program kemanusiaan. Kita mendatangi anggota MPR, Kemnaker, untuk menggalang sekuat kemampuan kita untuk jumlah yang ditentukan. Setelah tidak sampai, kita  hanya mampu 80 persen, kita serahkan ke pemerintah," ujarnya. 

Dia menambahkan, kala itu antusias santri, kiai, dan warga NU untuk membantu Eti ketika LAZISNU datang ke pesantren-pesantren di Jawa Barat, Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten sangat tinggi. Hal itu ditunjukkan dengan menyumbang uang dalam bentuk kontan dan kiriman melalui rekening.   

“NU identik dengan masyarakat kaum bawah. Ketika salah seorang saudaranya tak mampu dengan apa yang dibutuhkan, maka kewajiban NU membantunya sebagai bagian dari masyarakat NU. Yang pasti dia (Eti) orang desa yang yang mencari peruntungan nasib di Arab Saudi,” kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement