Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saat Klinsmann Mampu Mengambil Hati Publik Inggris

Kamis 30 Jul 2020 03:42 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Agung Sasongko

Pelatih timnas AS Juergen Klinsmann

Pelatih timnas AS Juergen Klinsmann

Foto: AP/Peter Morrison
Saat itu, eks penyerang Bayern Muenchen itu adalah musuh nomor satu publik Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID,   LONDON -- Pada akhir musim 1993/1994, Tottenham Hotspur terpuruk di peringkat ke-15 dan hanya terpaut tiga poin dari zona degradasi. Kondisi ini tidak terlepas dari keputusan fatal petinggi Spurs untuk menunjuk legenda klub, Ossie Ardiless, untuk menukangi tim asal London Utara tersebut. 

Di titik inilah, salah satu pemilik Spurs pada saat itu, Alan Sugar, merasa perlu mendatangkan seorang pemain bintang. Ini dilakukan Sugar untuk bisa membawa The Lilywhites menjadi salah satu klub yang diperhitungkan dan membuat pemain lain bersedia bergabung bersama Spurs. Pilihan akhirnya jatuh ke penyerang asal Jerman, Jurgen Klinsmann.

Baca Juga

Meski telah berusia 30 tahun, Klinsmann dianggap sebagai pemain kunci Inter Milan saat menggondol Piala UEFA pada musim 1990/1991 dan membawa Jerman menjuarai Piala Dunia 1990. Tidak hanya itu, Klinsmann juga sempat dua kali merebut gelar pemain terbaik Bundesliga. Pun dengan torehan catatan gol yang begitu impresif, dengan total 168 gol dari 388 penampilan di kasta tertinggi kompetisi di tiga negara Eropa berbeda.

Akhirnya, dengan nilai transfer mencapai dua juta poundsterling, Spurs resmi merekrut Klinsmann dari AS Monaco pada awal musim 1994/1995. Namun, pada saat itu, eks penyerang Bayern Muenchen itu adalah musuh nomor satu publik Inggris. Pasalnya, mimpi Inggris untuk melaju ke babak final Piala Dunia 1990 dibuyarkan Klinsmann, dan Jerman Barat, usai menang atas The Three Lions di babak adu penalti.

Selain itu, Klinsmann juga dianggap pemain yang menghalalkan segala cara untuk bisa meraih kemenangan, termasuk dengan melakukan diving. Hal ini dilakukan Klinsmann di partai final Piala Dunia 1990, yaitu saat melakukan diving setelah dilanggar oleh salah satu pemain Argentina, Pedro Monzon, pada menit ke-65. Ujungnya, Monzon langsung dikartu merah wasit dan menjadi pemain pertama yang diusir wasit di partai final Piala Dunia.

Semua ini menjadikan Klinsmann bukan sosok yang populer buat publik Inggris. Namun, persepsi publik Inggris terhadap Klinsmann ini secara perlahan mulai berubah. Pembawaan dan sikap Klinsmann yang ramah, penuh humor, dan gampang disukai membuat publik Inggris mulai mengubah kesan mereka terhadap mantan penyerang Stuttgart tersebut.

Bahkan, seolah sadar dengan sorotan publik Inggris terhadap aksi divingnya di final Piala Dunia 1990, Klinsmann sempat melontarkan lelucon pada saat diperkenalkan sebagai penggawa Spurs. ''Untuk memulai konferensi pers ini, saya punya pertanyaan penting untuk kalian. Apakah kalian, di London, memiliki sekolah untuk melakukan diving?,'' kata Klinsmann seperti dilansir Planet Football, pada saat itu.

Tidak berhenti sampai disitu, saat mencetak gol di laga debutnya bersama Spurs di partai kontra Sheffield United, Klinsmann langsung melakukan selebrasi gol dengan menjatuhkan diri seperti layaknya orang yang sedang melompat untuk menyelam atau diving. Aksi ini kian membuat publik Inggris mulai bersimpati.

Kendati begitu, performanya di atas lapangan membuat Klinsmann mampu merebut hati publik Inggris. Meski hanya satu musim memperkuat The Lilywhites, Klinsmann bisa menjawab semua ekspektasi terhadap dirinya. Klinsmann mampu mencetak tujuh gol dalam enam laga awal bersama Spurs di pentas Liga Primer Inggris. Selain itu, Klinsmann pun kerap menjadi pahlawan kemenangan Spurs.

Tercatat, Klinsmann menjadi penentu kemenangan Spurs di laga kontra West Ham, Everton, Leicester City, dan Sheffield Wednesday usai mencetak gol kemenangan di laga-laga tersebut. Namun, momen paling diingat para supporter Spurs adalah saat Klinsmann mencetak gol kemenangan Spurs di laga kontra Liverpool pada perempat final Piala FA.

Tertinggal satu gol, Spurs berhasil menyamakan kedudukan lewat Teddy Sheringham. Namun, Klinsmann memastikan kemenangan Spurs di laga tersebut dengan torehan gol pada menit ke-89. The Lilywhites pun melaju ke babak semifinal. Sayangnya, di babak semifinal, Spurs harus rela dibekuk Everton, 1-4. Kendati begitu, Klinsmann sudah terlanjur menjadi idola baru di Stadion White Hart Lane.

Klinsmann menutup musim debutnya di Spurs itu dengan torehan 30 gol di semua kompetisi. Pun dengan keberhasilan membawa Spurs finish di peringkat ketujuh Liga Primer Inggris, setelah musim sebelumnya terpuruk di peringkat ke-15. Tidak hanya itu, pengakuan pun datang dari Jurnalis Sepak Bola Inggris dengan menobatkan Klinsmann sebagai pemain terbaik pada musim 1994/1995. 

Untuk pertama kalinya, seorang pemain mendapatkan penghargaan tersebut pada musim pertamanya di pentas sepak bola Inggris. Selain itu, Klinsmann juga masuk dalam daftar tim terbaik pilihan PFA, dan mendampingi duet Chris Sutton dan Alan Shearer, yang tampil apik bersama Blackburn Rovers pada saat itu. Klinsmann pun terpilih sebagai runner-up di ajang Ballon d'Or 1995.

Pencapaian Klinsmann pada sepanjang musim tersebut kian lengkap saat menjadi kapten timnas Jerman dan mengantarkan Die Maanschaft menjadi yang terbaik di gelaran Piala Eropa 1996. Setelah semusim memperkuat Spurs, Klinsmann akhirnya kembali ke Jerman dan memperkuat Bayern Muenchen. Namun, pada pertengahan musim 1997/1998, Klinsmann kembali ke Stadion White Hart Lane dan membantu Spurs bertahan di pentas Liga Primer Inggris.

Akhirnya, kehadiran Klinsmann di Liga Primer Inggris ternyata meninggalkan warisan yang cukup penting buat perkembangan Liga Primer Inggris. Lewat kehadiran Klinsmann, publik Inggris dipaksa untuk tidak bersikap skeptis pada kemampuan pemain asing di Liga Primer Inggris. Tidak hanya itu, dengan adanya tawaran nilai transfer tinggi, bukan tidak mungkin pemain bintang tertari untuk tampil di Liga Primer Inggris. Setelah dua dekade, perekrutan Klinsmann ternyata masih memiliki pengaruh terhadap kompetisi Liga Primer Inggris.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA