Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Sesmenpora Minta PSSI dan LIB Jaga Penonton tak ke Stadion

Rabu 29 Jul 2020 16:48 WIB

Red: Israr Itah

Sesmenpora Gatot S Dewa Broto saat menemui wartawan di Media Center Kemenpora, Jakarta, Jumat (22/11).

Sesmenpora Gatot S Dewa Broto saat menemui wartawan di Media Center Kemenpora, Jakarta, Jumat (22/11).

Foto: republika/Afrizal Rosikhul Ilmi
Penyelenggaraan kompetisi Liga 1 ada Oktober harus melalui protokol ketat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Kemenpora Gatot S. Dewa Broto meminta PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi bisa menjamin, saat kompetisi Liga 1 Indonesia kembali dimulai, tidak ada suporter yang nekat datang meski itu berada di luar area stadion.

"Jangan sampai, misalkan kayak di Stadion GBK, di dalamnya enggak ada penonton atau dibatasi penontonnya, enggak tahunya di luar (stadion) pada nunggu gitu, itu yang harus diatur," kata Gatot dalam diskusi daring di Graha BNPB yang dipantau dari Jakarta, Rabu (29/7).

Gatot mengatakan sepak bola memang olahraga yang paling populer di Indonesia sehingga menyita perhatian banyak orang. Kelanjutan kompetisi akan disambut suka cita oleh para penggemar.

Namun penerapan protokol kesehatan dan keselamatan yang ketat menjadi sangat penting ketika kompetisi dimulai. Gatot tak ingin karena lemahnya pengawasan dari PSSI, PT LIB, maupun klub, malah membuat klaster penularan baru.

"Poinnya adalah silakan untuk mengadakan liga misalnya, tapi dengan catatan panjang sekali persyaratannya," kata dia.

Gatot juga meminta agar PSSI dan PT LIB menyusun teknis secara mendetail untuk mengantisipasi dari hal-hal yang tak diinginkan. Ia mencontohkan apabila di tengah jalan ada pemain terkonfirmasi positif, PSSI dan PT. LIB harus memiliki skenario yang akan diambil.

"Bahwasanya juga jangan sampai kemudian bagi mereka itu tiba-tiba mereka sudah aman bertanding di sebuah daerah, enggak tahunya ada satu terindikasi entah itu karena positif atau kemudian ODP, PDP," kata dia.

"Kemudian gugus tugas setempat itu kemudian menganulir atau kemudian membunyikan peluit 'Oh ini tidak bisa berlanjut (kompetisi) atau sebagainya'. Poinnya adalah harus ada koordinasi yang rapi antara kami kemudian pihak cabang olahraga dan yang terakhir dengan pihak gugus tugas," kata dia menambahkan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA