Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Terdesak Ekonomi, Nelayan Kecil Pantura Pertaruhkan Nyawa

Rabu 29 Jul 2020 10:35 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus Yulianto

Nelayan menyiapkan perbekalan BBM sebelum melaut di Karangsong, Indramayu, Jawa Barat.

Nelayan menyiapkan perbekalan BBM sebelum melaut di Karangsong, Indramayu, Jawa Barat.

Foto: Antara/Dedhez Anggara
Rata-rata penghasilan nelayan dalam sebulan ini sekitar Rp 30 ribu per hari.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Para nelayan kecil di Kabupaten Indramayu terpaksa nekat dan mempertahurhkan nyawanya dengan tetap melaut meski saat ini gelombang tinggi kerap melanda perairan. Desakan kebutuhan ekonomi membuat mereka mengabaikan keselamatan.

Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Indramayu, Dedi Aryanto, menjelaskan, ketinggian gelombang saat ini di perairan Indramayu di kisaran 1,25 – 2,5 meter. Ketinggian gelombang itu cukup berbahaya bagi nelayan tradisional yang menggunakan perahu kecil.

"Nelayan kita imbau tidak melaut dulu. Tapi apa daya, untuk memenuhi kebutuhan makan, akhirnya mereka memaksa melaut," kata Dedi kepada Republika, Rabu (29/7).

photo
Nelayan mengumpulkan rajungan hasil tangkapan di Karangsong, Indramayu, Jawa Barat. - (Antara/Dedhez Anggara)
Dedi mengatakan, para nelayan yang tetap melaut dalam sebulan terakhir ini pun memperoleh penghasilan yang tidak menentu. Dia mencontohkan, untuk nelayan di Desa Limbangan dan Glayem, mereka melaut selama dua hari dua malam hanya membawa pulang uang berkisar Rp 80 ribu – Rp 120 ribu.

"Itu penghasilan bersih setelah dipotong biaya perbekalan," ujar Dedi.

Dedi menyebutkan, biaya perbekalan nelayan kecil untuk melaut rata-rata Rp 250 ribu. Jika cuaca sedang bagus, mereka bisa membawa hasil tangkapan senilai Rp 500 ribu. Setelah dipotong biaya perbekalan, sisanya dibagi dengan jumlah nelayan dalam satu kapal. Biasanya, satu kapal berisi dua orang nelayan.

Namun, jika gelombang tinggi dan cuaca buruk, hasil tangkapan yang diperoleh bahkan tidak cukup untuk menutupi biaya perbekalan yang telah mereka keluarkan.

"Ya kalau dirata-ratakan, penghasilan nelayan dalam sebulan ini sekitar Rp 30 ribu per hari," tutur Dedi.

Dedi mengatakan, tetap melaut dalam kondisi gelombang yang tidak bersahabat membuat nelayan harus menghadapi risiko ancaman kecelakaan di laut. Hal itu seperti yang dialami salah seorang nelayan warga RT 15 RW 03 Desa Limbangan, Kecamatan Juntinyuat, Suganda (38), yang dilaporkan hilang di tengah laut, Senin (27/7). Korban diperkirakan tenggelam akibat digempas gelombang tinggi.    

Korban berangkat sendirian melaut dari muara Limbangan. Dua orang nelayan kemudian menemukan perahu korban terombang-ambing di tengah perairan Balongan. Namun, korban tidak ditemukan. "Sampai sekarang (Rabu pagi) belum ditemukan. Masih dilakukan pencarian," ucap Dedi.

Sebelumnya, BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati, Kabupaten Majalengka, telah memperingatkan masyarakat di Wilayah Ciayumajakuning untuk mewaspadai angin kencang sejak beberapa hari terakhir.

"Waspadai juga peningkatan tinggi gelombang mencapai lebih dari 1,5 meter di perairan utara Cirebon dan Indramayu," tandas Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati, Kabupaten Majalengka, Ahmad Faa Izyn. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA