Ahad 26 Jul 2020 11:36 WIB

Perang Informasi AS, China, Australia

Pakar menyebut, tindakan agresif AS mengancam perdamaian.

Bendera Australia dan Cina.
Foto: AAP
Bendera Australia dan Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY – Australia dan Amerika Serikat (AS) akan beraliansi mengadang kampanye disinformasi dari sejumlah negara seperti China dan Rusia. Langkah ini ditempuh di tengah eskalasi politik AS-China berupa saling tutup konsulat.

Laman berita Sydney Morning Herald, Sabtu (25/7), melaporkan, Menteri Luar Negeri Marise Payne dan Menteri Pertahanan Australia Linda Reynolds, Ahad (26/7) dijadwalkan terbang ke Washington untuk menggelar pertemuan dengan mitranya.

Pertemuan besar Australia dengan AS ini juga dilangsungkan di tengah meningginya tensi hubungan negara tersebut dengan China sejak terjalinnya hubungan diplomati di antara keduanya pada tahun 1970-an.

Payne menyebutkan, pada periode jabatannya, ini merupakan pertemuan paling penting antara dua sekutu, AS-Australia.’’Paling signifikan di masa saya, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang,’’ katanya.

Ada sejumlah agenda yang bakal dibahas dalam pertemuan di Washington tersebut. Salah satunya, mengadang kampanye disinformasi China-Rusia. Bulan lalu, Twitter menyatakan, menghapus lebih dari 30 ribu akun.

Ini ditempuh setelah penyelidikan mengungkapkan, akun-akun itu berhubungan dengan propaganda dan operasi disinformasi di China, Rusia, dan Turki.Selain upaya menangkal operasi disinformasi, kedua belah pihak bakal mencapai kesepakatan untuk meningkatkan keamanan kesehatan di Indo Pasifik dan membantu kawasan ini memulihkan diri dari krisis yang diakibatkan pandemic Covid-19.

Kamis lalu, Menlu AS Mike Pompeo menegaskan, pemerintahnya akan mengakhiri yang ia sebut sebagai blind engagement dengan China. Pernyataan Pompeo keluar berselang beberapa hari setelah AS menutup konsulat China di Houston.

Secara terpisah, kantor berita China, Xinhua, Sabtu (25/7) melaporkan, pakar internasional menilai, pernyataan dan tindakan agresif AS terhadap China bisa jadi ancaman bagi perdamaian dunia dan menghadirkan perang dingin baru.

Pernyataan ini terlontar dalam pertemuan virtual terkait kampanye internasional menentang perang dingin terhadap China, yang menghadirkan pakar dari AS, China, Inggris, Rusia, dan Kanada. Jenny Clegg, pengajar senior studi internasional di University of Central Lancashire, menyatakan, hubungan AS-China merupakan salah satu yang penting di dunia dan limbungnya hubungan itu secara signifikan menjadi ancaman bagi perdamaian dunia.

Selain itu, John Ross, senior fellow di Chongyang Institute, Renmin University of China, memerinci ancaman perang oleh AS termasuk perang besar di Irak dan Libya, serta sanksi unilateral pada Iran dan Venezuela.  ‘’Tentu saja, ancaman perang terhadap China, akan menjadi bencana yang tak bisa kita bayangkan,’’ kata Ross.

Pernyataan lain disampaikan, Medea Benjamin, cofounder Codepink, organisasi perempuan yang bekerja untuk mengakhiri perang oleh AS. Ia prihatin atas klaim AS bahwa China melakukan agresi baru, padahal AS punya basis militer di seluruh dunia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement