Kamis 23 Jul 2020 16:49 WIB

Kasus Kematian Anak Akibat DBD di Tasikmalaya Meningkat

Seorang balita laki-laki berusia 1 tahun meninggam dunia diduga akibat DBD pada Rabu

Rep: Bayu Adji P / Red: Agus Yulianto
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Uus Supangat saat diwawancara di kantornya.
Foto: Republika/Bayu Adji P
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Uus Supangat saat diwawancara di kantornya.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Kasus kematian anak akibat demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya kembali meningkat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya hingga Kamis (23/7), sejak awal Januari 2020 tercatat 18 kasus kematian akibat DBD, yang 12 kasus di antaranya adalah anak-anak. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Uus Supangat mengatakan, penambahan kasus kematian anak akibat DBD terjadi pada Rabu (22/7). Seorang anak berusia 1 tahun meninggal akibat DBD di RSUD dr Soekardjo pada Rabu sore. "Kita sudah periksa laporannya, memang karena DBD," kata dia, Kamis (23/7). 

Berdasarkan catatan Republika, anak yang berdomisili di Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, itu telah dirawat di RSUD dr Soekardjo selama tiga hari. Namun, korban meninggal saat menjalani perawatan di ruang pediatric insensitive care unit (PICU) pada Rabu sore. 

Menurut Uus, kondisi anak itu telah cukup parah ketika masuk ke RSUD dr Soekardjo. Selama perawatan, kondisi anak tak kunjung membaik dan akhirnya meninggal dunia.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, hingga saat ini terdapat 944 kasus DBD sejak awal 2020. Namun, kata Uus, pasien DBD yang masih dirawat tinggal sebanyak 25-30 orang. 

Dikatakannya, kasus DBD di Kota Tasikmalaya hampir merata di seluruh kecamatan. Namun, Kecamatan Kawalu adalah yang paling terdampak dengan 171 kasus positif DBD dan enam kasus kematian. 

Wilayah lain yang menyumbang angka kematian tinggi adalah Kecamatan Cipedes dengan empat kasus kematian, serta Kecamatan Purbaratu dan Bungursari dengan masing-masing dua kasus kematian. Hanya dua kecamatan yang belum terdapat kasus kematian, yaitu Cibeureum dan Tamansari.

Sebelumnya, seorang balita laki-laki berusia 1 tahun asal Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, meninggam dunia diduga akibat demam berdarah dengue (DBD) pada Rabu sore. Balita itu meninggal saat menjalani perawatan di RSUD dr Soekardjo.

Salah seorang keluarga korban, Muhidin (32 tahun) mengatakan, keponakannya itu masuk rumah sakit sejak tiga hari lalu. Awalnya, suhu tubuh keponakanya itu tinggi. Oleh orang tuanya, ia dibawa ke dokter anak. "Saat diperiksa, langsung dirujuk ke RSUD," kata dia, di RSUD dr Soekardjo, Rabu.

Namun setelah menjalani rawat inap selama tiga hari, korban meninggal dunia. Korban kemudian dibawa ke Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD dr Soekardjo. Berdasarkan keterangan dokter, keponakannya itu meninggal karena DBD.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak, Kota Tasikmalaya, Nunung Kartini menyesalkan, tingginya angka kematian anak akibat DBD di wilayahnya. Dia meminta, masyarakat lebih memperhatikan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungannya masing-masing.

"Berkaitan adanya balita meninggal karena dbd, sangat prihatin. Saya imbau kepada masyarakat agat memperhatikan lingkungan kenersihan. Karena awal dari DBD adalah PHBS," kata dia. 

Dia mengingatkan, masyarakat harus selalu mememperhatikan tempat-tempat di rumahnya yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Selain itu, program 3M (menguras, menutup, mendaur ulang barang bekas) di lingkungan masing-masing. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement