Kamis 23 Jul 2020 12:50 WIB

Korea Selatan Jatuh ke Resesi Setelah Ekspor Merosot Tajam

Ekonomi Korea Selatan menyusut hingga 3,3 persen pada Juni

Red: Nur Aini
Bendera Korea Selatan. Korea Selatan alami resesi saat pandemi Covid 19
Foto: EPA
Bendera Korea Selatan. Korea Selatan alami resesi saat pandemi Covid 19

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Selatan mengalami resesi pada kuartal kedua dalam kemunduran ekonomi terparah negara itu sejak lebih dari dua dekade terakhir dengan ekspor yang merosot tajam akibat krisis pandemi Covid-19.

Bank Korea, pada Kamis (23/7), menyatakan bahwa ekonomi negara menyusut dengan penyesuaian musiman sebanyak 3,3 persen pada Juni dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Angka tersebut merupakan kontraksi paling tajam sejak kuartal pertama 1998.

Baca Juga

Negara ekonomi terbesar keempat di Asia itu menyusul Jepang, Thailand, dan Singapura yang sudah lebih dulu mengalami resesi teknikal atau kemerosotan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut. Walaupun begitu, analis dan pembuat kebijakan Korea Selatan menyatakan pihaknya berupaya untuk melakukan pemulihan ekonomi yang memungkinkan dan lebih cepat dibanding dengan negara-negara lain di kawasan.

"Memungkinkan bagi kita untuk rebound seperti China pada kuartal ketiga selagi pandemi melambat serta aktivitas produksi di luar negeri, sekolah, dan rumah sakit yang kembali berjalan," ujar Menteri Keuangan Korea Selatan Hong Nam-ki merespon data resesi.

Ia merujuk pada perekonomian China yang kembali tumbuh pada kuartal kedua usai terperosok tajam selama kuartal pertama karena menjadi episentrum awal wabah Covid-19. Produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan jatuh dengan angka 2,9 persen dalam hitungan tahun-per-tahun (YoY), menjadi penurunan terbesar sejak kuartal keempat 1998.

Kegiatan ekspor, yang menyumbang hampir 40 persen perekonomian, adalah sektor yang paling besar menarik kemerosotan pertumbuhan, yakni dengan penurunan sebesar 16,6 persen dalam satu kuartal, terburuk sejak 1963. Pemerintah telah menggelontorkan stimulus ekonomi sekitar 277 triliun won (setara Rp 3.374 triliun) sejauh ini. Namun, pembuat kebijakan tak cukup mampu mengendalikan permintaan global terhadap ekspor dalam negeri.

"Bagian terburuk nampaknya telah usai. Base effect dan pembiayaan fiskal dari anggaran tambahan akan meningkatkan investasi," kata Park Sung-hyun, analis dari perusahaan HI Investment & Securities.

Untuk keseluruhan selama 2020, analis memperkirakan perekonomian akan turun rata-rata 0,4 persen, namun Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan kontraksi yang bahkan lebih dari 2,1 persen. Pekan lalu, gubernur Bank Korea menyebut bahwa revisi yang lebih besar dari proyeksi 0,2 persen yang dinyatakan sebelumnya untuk penurunan ekonomi 2020 sebagai hal yang tidak dapat dihindari.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement