Kamis 23 Jul 2020 05:10 WIB

Jadi RS Rujukan, Siloam Manado Layani 70 Pasien Covid-19

Pembiayaan pasien Covid-19 di Siloam Manado 75 persen ditanggung KCBL

Gedung Rumah Sakit Siloam (ilustrasi). Siloam Hospitals Paal Dua ditunjuk sebagai salah satu rumah sakit rujukan penanganan pasien Covid-19 sejak April 2020 yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Gedung Rumah Sakit Siloam (ilustrasi). Siloam Hospitals Paal Dua ditunjuk sebagai salah satu rumah sakit rujukan penanganan pasien Covid-19 sejak April 2020 yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.

REPUBLIKA.CO.ID, MANADO -- Siloam Hospitals Paal Dua ditunjuk sebagai salah satu rumah sakit rujukan penanganan pasien Covid-19 sejak April 2020 yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Selama Juni 2020, Siloam Paal Dua Manado telah melayani 70 pasien Covid-19 dengan komposisi 38 pasien pria dan 32 pasien wanita. 

Guna mencegah Pandemi areal rumah sakit pun dibagi tiga zona meliputi zona merah untuk areal Laboratorium, zona kuning bagi layanan manajemen hingga zona hijau untuk kedatangan pasien maupun layanan lainnya dengan mengacu dan  mengikuti protokol kesehatan cegah Pandemi Covid-19. 

"Terkonfirmasi terpapar Corona sebanyak 63 pasien dan 7 pasien berstatus Pasien Dalam Pengawasan", ungkap dr Paulina Kasih, M.Kes, melalui Webinar "Pelaksanaan Pelayanan Covid-19 Di Rumah Sakit" oleh Siloam Hospitals Paal Dua Manado, Jumat (17/07). 

Menurut Paulina Kasih, sebagai rumah sakit rujukan, pihaknya menggunakan amanah tersebut sebagai ajang dedikasi dan bentuk bakti tanggung jawab kepada seluruh masyarakat di Sulawesi Utara.  

"Kami melayani 7x24 jam, tidak saja didampingi perawat dan dokter umum, namun layanan pasien Corona juga dilayani oleh para dokter spesialis. Selain itu layanan Laboratorium, Radiologi dan kamar operasi kami operasikan setiap hari 1x24 jam termasuk layanan persalinan  ibu hamil yang mengalami gejala atau terpapar corona", tutur Paulina. 

Dikatakannya, dalam pembiayaan, lebih dari 75 persen para pasien ditanggung melalui anggaran pemerintah melalui skema Kejadian Luar Biasa Covid-19 (KLBC), sisanya sebesar 25 persen melalui asuransi dan pembiayaan personal. 

"Sejak April hingga Juni 2020, pelayanan mengalami peningkatan jumlah pasien dan sebagian besar pembiayaan KLBC", imbuh Paulina. Rinciannya adalah sejak 20 April sampai dengan Juni  2020 jumlahnya 106 pasien terdiri dari pria 56 pasien dan wanita 50 pasien.

Dokter spesialis penyakit dr. Agung Nugroho, Sp.PD - KPTI , juga turut mengingatkan bahwa Pandemi diperkirakan akan berlangsung lama termasuk infeksi (pemaparan virus) yang sifatnya hilang dan timbul. Agung Nugroho pun turut menyoroti tingginya mortalitas di Sulawesi Utara hingga 6,05 persen terutama pada pasien lanjut usia dan pasien dengan penyakit bawaan. 

"Pesan yang ingin saya sampaikan akan Pandemi yang akan berlangsung cukup lama ini, bahwa perlu adanya definisi dalam melaksanakan penanganan Covid-19. Ambil contoh pada penanganan pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA. Secara praktis semua pasien pneumonia berat dianggap sebagai probable covid sampai terbukti PCR negatif atau positif", tutur Nugroho dalam kesempatan di webinar. 

Sehingga pada tata Laksana Covid 19, khususnya pada periode new normal dapat dilaksanakan melalui tahapan Asimptomatik dan Simptomatik, khususnya pada penanganan penyakit dalam meliputi jantung, otak dan lainnya. "Harus diwaspadai bila pasien Covid 19 memiliki bawaan penyakit lainnya, misalnya adanya bawaan penyakit jantung atau susah bernafas. Dalam tahapan Asimptomatik terdapat 10 hingga 40 persen pasien tidak bergejala, dapat menularkan dan beberapa hari kemudian terbukti terpapar Corona. Ini merupakan potensi penularan. Sedangkan tahapan Simptomatik merupakan fase pengobatan dengan melalui terapi, seperti pemberian oksigen, ventilator hingga terapi cairan," ujar dr. Agung Nugroho, Sp.PD - KPTI.

Sementara itu menurut dr. Benny. Setiadi, SpJP (K) menjelaskan pasien yang dirawat dilakukan pemeriksaan secara komprehensif dengan mempertimbangkan komorbid dan kondisi klinis pasien, karena penanganan pasien Covid melibatkan multi disiplin ilmu dan membutuhkan kerjasama tim yang solid.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement