Rabu 22 Jul 2020 13:34 WIB

Risma Tegaskan akan Tingkatkan Pengujian Spesimen

Risma menargetkan uji spesimen dilakukan hingga 4.000 sampel per hari.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Indira Rezkisari
Uji spesimen. Pemkot Surabaya menargetkan peningkatan kemampuan uji spesimen hingga 4.000 sampel tiap harinya.
Foto: ANTARA/FB Anggoro
Uji spesimen. Pemkot Surabaya menargetkan peningkatan kemampuan uji spesimen hingga 4.000 sampel tiap harinya.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kapasitas pengujian Covid-19 di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bakal ditingkatkan hingga 4.000 spesimen per hari. Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, mengatakan nantinya pemeriksaan sampel di laboratorium ini tidak hanya dikhususkan untuk warga Surabaya. Artinya, sampel warga dari luar Surabaya juga bisa diuji di sana. Khususnya yang tinggal di Kota Pahlawan.

“Nanti yang kita periksa itu bukan hanya warga Surabaya, tapi dia yang ada di Surabaya. Seperti di Pasar Keputran Utara kemarin bukan hanya warga Surabaya. Sekitar 70 persen memang warga Surabaya, tapi sekitar 30 persen pedagang yang dari luar kota itu kita periksa semua,” kata Risma di Surabaya, Rabu (22/7).

Baca Juga

Risma melanjutkan, untuk mencegah terjadinya penularan dari daerah lain, Pemkot Surabaya bakal melakukan pemeriksaan ke pusat-pusat lokasi keramaian. Seperti di pasar-pasar atau pusat perbelanjaan yang ramai mobilitas penduduk.

“Misalkan nanti kita akan rencana ke Pasar Pabean, PIOS, atau pusat-pusat perdagangan yang ada mobilitas (penduduk) untuk mencegah penularan dari daerah lain,” paparnya.

Apabila dalam pemeriksaan itu nantinya ditemukan warga yang positif, langsung dilakukan isolasi untuk mencegah terjadinya penularan. Bagi warga Surabaya, selanjutnya diisolasi di Hotel Asrama Haji, Sukolilo. Sedangkan warga luar kota, diisolasi di Rumah Sakit Darurat Lapangan Indrapura.

“Kalau kemudian ada yang positif (warga luar Surabaya) tadi langsung kita isolasi di rumah sakit Lapangan Indrapura. Kami sudah ada komitmen dengan Pak Pangkogabwilhan II, Pangdam V Brawijaya, Kapolda Jatim, nanti akan isolasi di sana,” kata Risma.

Risma menilai, pola yang bakal diterapkan itu juga menguntungkan bagi daerah asal pasien. Sebab, ketika pasien itu sembuh dan bukan pembawa carrier lagi, maka saat kembali ke daerahnya pun dia tidak lagi menularkan ke keluarga atau kerabatnya.

“Jadi nanti polanya seperti itu, yang kita lakukan seperti itu. Jadi kita tidak ngomong lokasi (daerah asal), tidak ngomong itu warga Surabaya atau bukan, jadi semua yang ada di lokasi (pasar atau pusat perdagangan) itu maka semua harus di-swab,” kata Risma.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement