Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Muslim

Kue Klepon & Nasi Uduk: Makanan Syariah untuk Kaum Muslim?

Rabu 22 Jul 2020 07:04 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Postinga kue klepon tidak Islam menghebohkan jagat maya, Selasa (21/7)

Postinga kue klepon tidak Islam menghebohkan jagat maya, Selasa (21/7)

Foto: Dok Istimewa
Apa ada sih sebutan makanan syariah bagi kaum Muslim

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Hari-hari terakhir ini tengah geger di medsos soal penganan kue klepon. Ributnya bukan main. Jadi santapan pengguna internet. Ada buzzer yang getol mendukung dengan mengkaitkan dengan kecenderungan orang menyukai apa saja yang berbau Arab di nisbatkan sebagai ajaran Islam.

Seolah syariah itu urusan orang Arab. Intinya tidak Arab maka tidak Islam. Penguna internet lawannya menolaknya mati-matian. Kedua belak pihak saling memaki dengan banyak istilah pejoratif. Suasana pertarungan cebong dan kampret terasa sekali. Dam terindikasi ini hanya memancing ribut saja.

Untuk sebutan klepon sendiri sebagai makanan dengan laber syariah, bagi Muslim sendiri 'aneh bin ajaib alias tak lazim bin tak masuk akal'. Orang Islam tak pernah menyebut dan memberi sebutan sebuah makanan seperti itu. Yang mereka kenal dan lazim disebutkan adalah makanan halal dan haram. Sebab inilah sejatinya ukuran baku sebuah makanan bagi kaum Muslim.

Dan ini tidak aneh bila kemudian ada label halal dari MUI. Bahkan ada yang berlebihan, sebab ada kulkas yang melabeli produknya dengan label halal. Padahal barang ini tidak perlu karena produk ini sebenarnya lebih baik menempeli produlnya dengan garansi dan seberapa besar penggunaan listik. Di sini terendus bila pabrik kulkas ini tampaknya hanya ingin memastikan bahwa produknya aman untuk menyimpan makanan bagi para Muslim.

Lalu bagaimana soal nasi uduk? Soal ini unik sebab justru makanan ini adalah makanan lokal Jawa yang terpengaruh makanan arab: Nasi Briyani dan sejenisnya. Ustadz Salim Fillah ketika mengkisahkan tentang 'Babad Jawa' menceritakan hal ini. Ustadz ini menceritakan sebenarnya makanan ini muncul akibat kegemaran Sultan Agung kepada nasib arab. Tapi dia kesulitan menyantapnya karena terkendala jenis nasinya yang khusus dan bumbu rempahnya.

Sadar akan kesusahan menyantap nasi Arab, Sultan Agung kemudian melakukan inovasi. Dia mengganti beras dalam nasi arab (brasmati) dengan beras lokal. Dan untuk mengganti rempah-rempahnya, maka digantinya dengan nasi uduk.

Jadi karena berasal dari campuran Arab dan lokal jawa, makanan itu disebut sebagai nasi wudhul. Yakni nasi yang memakai air santan. Maka nasi yang dimasak dengan santan itulah yang dipakai Sultan Agung disebut nasi wudhuk. Dan kemudian dalam lidah orang  Jawa dan nusantara dikenal dengan sebutan nasi uduk. Nasi inilah yang kemudian dipakai tentara Mataram kaka menyerang Batavia. Maka kemudian di tanah betawi kini dikenal sebutan nasi uduk.

Dan dalam soal Islam dan pengaruhnya pada kerajaan Jawa, memang dalam  Kesultanan Mataram memang sangat kuat. Kerajaan ini disebut sebagai Mataram Islam untuk membedakannya dengan kerajaan Mataram Hindu yang eksis di Jawa sekitar tahun 700 M. Juga narus diingat Raja Mataram Islam, misalnya Hamengku Bowno I, juga ada darah Arabnya dari duriat (klan) Basyaiban.

Tak hanya Sultan Agung, raja dalam dinasti Mataram misalnya Paku Buwono IV sangat suka 'Arab' dan disebut lazimnya dengan santri. Dia menyusun banyak tembang Jawa yang merupakan ajaran Islam. Sultan Pakubuwono malah sehari-harinya memakai jubah Arab dan acap kali memberikan khutbah di masjid. Karena itu sultan ini juga disebut sebagai sultan santri.

Meski kata 'santri' sendiri bukan berasal dari kata Arab tapi kata dari Sansekerta atau terpengaruh agama Hindu. Santri dalam sebutan aslinya adalah murik padepokan yang dipimpin resi. Tapi sebutan santri ini sekarang ini sudah terlanjur identik dengan orang Muslim.

Dan khusus soal pengaruh asing pada makanan Nusantara pun bukan barang baru. Makanan sehari-hari misalya, mie, bakwan, bakso, tahu itu makanan asal Cina. Belum lagi makanan Aceh yang sangat terpengaruh India karena memakai kari. Apalagi makanan khas palembang --misalnya empek-empek -- yang terpengaruh Cina. Bagi Muslim ibu bukan soal asalkan halal. Tak ada sebutan makanan syariah dalam benak Muslim.

Akhirnya klepon itu makanan syariah, makanan Islami, makanan halal, atau makanan santri? Kata komedian Mandra hanya cukup dijawab dengan:"Au ah lap (Tahu ah gelap)!"

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA