Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Wilayah-Wilayah Ini Masih Berpotensi Curah Hujan Tinggi

Senin 20 Jul 2020 19:30 WIB

Red: Ratna Puspita

Awan pekat menjelang hujan (ilustrasi). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan telah memasuki musim kemarau, tetapi di wilayah ekuator masih berpotensi curah hujan tinggi.

Awan pekat menjelang hujan (ilustrasi). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan telah memasuki musim kemarau, tetapi di wilayah ekuator masih berpotensi curah hujan tinggi.

Foto: Antara/Rahmad
Wilayah ekuator seperti Sulteng, Maluku hingga Papua bagian utara berpotensi hujan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan telah memasuki musim kemarau. Namun, di wilayah ekuator masih berpotensi curah hujan tinggi.

"Keunikan ini karena wilayah Indonesia berada di sekitar garis ekuator serta diapit oleh dua Samudera dan dua Benua besar, menjadikan Indonesia yang merupakan negara kepulauan, memiliki dinamika cuaca dan iklim yang khas," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (20/7).

Keunikan itu salah satunya tampak pada kondisi cuaca atau iklim yang kontras. Kondisi tersebut, membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan, sementara hujan ekstrem justru mengguyur beberapa wilayah lainnya.

Baca Juga

"Contohnya, pada saat musim kemarau melanda hampir di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan, wilayah Indonesia bagian tengah mulai Sulawesi Tengah, Maluku hingga Papua bagian utara malah berpotensi mendapatkan curah hujan relatif tinggi dalam dua dasarian (20 hari) ke depan," ujar Dwikorita.

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, musim kemarau masih terus akan berlanjut hingga Oktober nanti. 

Deputi Klimatologi BMKG, Herizal, menjelaskan dari 342 daerah Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 64 persen ZOM telah memasuki musim kemarau hingga pertengahan Juli. Hal ini seiring dominannya sirkulasi angin Monsun Australia yang bersifat kering dan bertiup dari arah Timur-Tenggara.

Daerah yang telah memasuki musim kemarau antara lain Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur, sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Barat, DKI Jakarta bagian barat dan timur, Pesisir utara Banten, Pesisir timur Jambi, Riau dan Aceh, Sumatera Utara bagian tengah, utara dan timur.

Serta Kalimantan Selatan bagian barat, Kalimantan Tengah bagian timur, Sulawesi Barat bagian selatan, Pesisir barat Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan. Begitu juga dengan Maluku bagian barat, Papua Barat bagian timur, serta Papua bagian tengah, selatan dan utara.

Dari wilayah-wilayah yang telah memasuki musim kemarau tersebut, 30 persen ZOM telah mengalami kondisi kering berdasarkan indikator Hari Tanpa Hujan berturut-turut (HTH) atau deret hari kering bervariasi antara 21 sampai 30 hari, 31 sampai 60 hari, dan di atas 61 hari.

"HTH terpanjang terjadi di Oepoi, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur selama 70 hari. Sementara itu, prediksi Hujan BMKG hingga sembilan bulan ke depan menunjukkan musim kemarau secara umum akan berlangsung hingga Oktober 2020," kata Herizal.

Kendati demikian, daerah yang tidak atau belum mengalami kemarau juga perlu mewaspadai adanya potensi curah hujan dengan kriteria Tinggi hingga Sangat Tinggi dalam empat bulan ke depan.

Daerah tersebut meliputi sebagian Aceh, Sumbar, Kalbar, Kaltara, Sultra, Sulteng, Sulbar, Maluku Utara, Papua Barat dan sebagian Papua (pada Juli), sebagian Aceh, Sumbar, Kalbar, Kaltara, Sulbar, Maluku Utara; Papua Barat dan Sebagian Papua (pada Agustus).

Aceh, sebagian Sumut, Sumbar, Kalbar dan Kaltara, Sulbar, Papua Barat dan sebagian Papua (September 2020), Aceh, Sumut, Sumbar, Bengkulu, Kalbar, Kaltara, Sulbar, Papua Barat dan sebagian besar Papua (Oktober 2020).

Potensi itu didasarkan pada kondisi suhu muka air laut perairan Indonesia yang masih cukup hangat, sehingga mensuplaicukup uap air ke atmosfer akibat proses penguapan.

Sementara itu, aktivitas gelombang ekuator tropis (Gelombang Kelvin dan Rossby) serta aliran massa udara Samudera Pasifik yang masuk ke Indonesia, berpotensi menimbulkan peningkatan aktivitas pembentukan awan konvektif di Indonesia sebelah utara ekuator, terutama di Indonesia bagian timur dan tengah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA