Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Hagia Sophia: Dihancurkan Tentara Romawi, Dirawat Islam

Senin 20 Jul 2020 06:17 WIB

Rep: Anadolu/ Red: Elba Damhuri

Orang-orang mengunjungi era Bizantium Hagia Sophia, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO dan salah satu tempat wisata utama Istanbul di distrik bersejarah Sultanahmet di Istanbul, Kamis, 25 Juni 2020. Dewan Negara Turki, pengadilan administratif tertinggi negara itu diharapkan Jumat, 10 Juli 2020, untuk mengeluarkan putusan tentang petisi yang meminta keputusan 1934 yang mengubah Hagia Sophia menjadi museum dibatalkan.

Orang-orang mengunjungi era Bizantium Hagia Sophia, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO dan salah satu tempat wisata utama Istanbul di distrik bersejarah Sultanahmet di Istanbul, Kamis, 25 Juni 2020. Dewan Negara Turki, pengadilan administratif tertinggi negara itu diharapkan Jumat, 10 Juli 2020, untuk mengeluarkan putusan tentang petisi yang meminta keputusan 1934 yang mengubah Hagia Sophia menjadi museum dibatalkan.

Foto: AP Photo/Emrah Gurel
Hagia Sophia pernah dihancurkan dan dijarah tentara Romawi Barat kemudian ditutup

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Pengadilan tinggi Turki pada Jumat membatalkan dekrit Kabinet 1934 yang mengubah Hagia Sophia di Istanbul menjadi museum, pembatalan itu memungkinkan pengembalian status situs tersebut kembali menjadi masjid.

Meski mendapatkan banyak tekanan internasional, Turki tetap gigih mengembalikan status Hagia Sophia di Istanbul menjadi masjid yang secara turun-temurun menjadi warisan sultan Ottoman Muhammad sang penakluk.

Sejumlah pejabat tinggi Turki pun berulang kali menjawab kritikan oleh pihak asing soal rencana pengalihfungsian Hagia Sophia menjadi tempat ibadah, setelah 85 tahun jadi museum oleh rezim Mustafa Kemal pada tahun 1934, sebelas tahun setelah pendirian Republik Turki.

Pada Jumat sebelum pembacaan putusan soal legalitas pengubahan fungsi Hagia Sophia, Menteri Kehakiman Turki Abdulhamit Gul mengungkapkan Hagia Sophia secara hukum dimiliki oleh sebuah yayasan yang didirikan oleh Sultan al-Fatih.

“Menurut undang-undang wakaf, apa yang diwakafkan harus difungsikan sesuai tujuannya,” tutur dia.

Dia menekankan Hagia Sophia telah diwakafkan oleh Muhammad al-Fatih khusus untuk tempat ibadah sebagai masjid, tentu saja hal itu merupakan keharusan bagi otoritas Turki memenuhi kebutuhan dan hak hukum terhadap warisan bersejarah itu.

"Saya percaya bahwa pelanggaran hukum pada keputusan [tahun 1934] yang memalukan ini akan segera berakhir," tutur Abdulhamit Gul.

Presiden Recep Tayyip Erdogan minggu lalu menegaskan setiap intervensi asing atas musyawarah internal Turki tentang status Hagia Sophia adalah serangan terhadap kedaulatan negaranya.

Erdogan meyakinkan masyarakat internasional bahwa Turki melindungi hak-hak Muslim serta semua komunitas agama lain.

Erdogan mengatakan Turki tak pernah ikut campur dalam urusan keagamaan negara lain.

“Begitu juga, tak ada pihak asing yang berhak untuk mencampuri masalah yang menyangkut tempat ibadat kami,” tekan Erdogan.

Pernyataan Presiden Erdogan tersebut menjawab kritik dari banyak negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS), atas janji pemerintah Turki untuk mengubah status Hagia Sophia dari musium menjadi masjid.

Erdogan pun menggarisbawahi ada sekitar 435 gereja dan sinagog di Turki. “semua orang menikmati hak mereka untuk menjalankan kepercayaan mereka.”

Gereja-gereja di Turki dilindungi serta yang baru di Istanbul juga sedang dibangun, sementara banyak tempat ibadah telah direnovasi melalui dana negara.

Presiden Erdogan mengatakan bahwa Turki akan selalu melindungi hak-hak Muslim dan minoritas yang tinggal di negara itu.

Menanggapi keputusan oleh pengadilan tinggi soal status Hagia Sophia, Ketua Parlemen Turki Mustafa Sentop menekankan Turki tidak akan merusak semua peninggalan bersejarah di situs tersebut.

Dia mengatakan ada kesinambungan dan integritas dalam pemahaman bangsa Turki terhadap benda-benda warisan.

Bangsa Turki tak memiliki sifat penghancur unsur budaya sebelumnya, seperti yang dilakukan Spanyol dan Portugal menghancurkan masjid-masjid di Eropa.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada awal Juli mendesak Turki untuk mempertahankan status museum Hagia Sofia.

Pompeo meminta Turki berkomitmen untuk menghormati tradisi agama dan sejarah keberagaman yang berkontribusi terhadap berdirinya Republik Turki, selain itu untuk memastikan situs itu tetap dapat diakses oleh semuanya.

“AS memandang perubahan terhadap status Hagia Sophia sebagai sebuah bentuk pengurangan terhadap warisan bangunan yang luar biasa ini,” sebut Pompeo.

Menanggapi pernyataan Pompeo itu, juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin menegaskan bahwa pengalihfungsian Hagia Sophia di Istanbul sebagai masjid tidak akan menghilangkan identitasnya sebagai warisan dunia yang bersejarah.

Jubir Kalin mengatakan pembukaan Hagia Sophia untuk tempat ibadah, seperti yang telah diupayakan oleh petinggi Turki sejak lama, tidak akan menghalangi semua orang yang ingin mengunjunginya.

Kalin mengungkapkan Turki tetap akan terus melestarikan ikon-ikon Kristen di sana, tidak menghancurkannya, sama seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka Ottoman, memelihara semua nilai-nilai Kristen yang ada.

Seperti Masjid Biru, Masjid Fatih dan Suleymaniye di Istanbul yang terbuka untuk semua pengunjung, meski berstatus sebagai masjid Hagia Sophia juga akan menerima kunjungan dari penganut kepercayaan lain atau para wisatawan, tutur dia.

sumber : Anadolu Agency
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA