Jumat 17 Jul 2020 08:20 WIB

BI: Dampak Ekspansi Moneter tak Berimbas pada Inflasi 2020

Tekanan inflasi terutama berasal dari permintaan dan ketersediaan pasokan pangan.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
Foto: Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia memproyeksikan inflasi tetap berada di batas sasaran 2-4 persen pada tahun ini. Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan dampak ekspansi moneter BI seperti burden sharing dengan pemerintah tahun ini tidak akan mempengaruhi inflasi pada 2020.

"InsyaAllah tekanan inflasi dari ekspansi moneter tidak akan terjadi tahun ini, inflasi insyaAllah tidak meningkat tahun ini, kita perkirakan akan tetap rendah," katanya dalam konferensi pers keputusan Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (16/7).

Baca Juga

Perry menyampaikan, tekanan inflasi terutama berasal dari permintaan dan ketersediaan pasokan pangan. Jika perekonomian masih lemah maka tekanan terhadap inflasi juga rendah. Inflasi Mei 2020 yang tercatat 1,96 persen dan di bawah batas bawah ini menunjukkan bahwa tekanan-tekanan terhadap inflasi masih rendah.

Pada saat permintaan domestik rendah, maka ekspektasi inflasi juga terjaga. Selain itu, tekanan dari nilai tukar rupiah juga rendah karena nilai tukar stabil dan cenderung menguat. Selain itu, koordinasi BI dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah mampu untuk kendalikan inflasi.

"Kami sampaikan fokus jangka pendek kita adalah bagaimana mempercepat pemulihan ekonomi, walau kita juga terus memantau tingkat inflasi dari waktu ke waktu," katanya.

Ruang penurunan suku bunga acuan lanjutan, tambahnya, akan ditentukan sejumlah indikator. Seperti tingkat inflasi dari bulan ke bulan, inflasi di bawah batas bawah dan belum ada kecenderungan tekanan. Sehingga inflasi diproyeksi tetap pada kisaran sasaran 2-4 persen untuk tahun ini.

Tahun depan, lanjut Perry, indikator inflasi akan tergantung pada pola pemulihan ekonomi, dilihat dari bagaimana perkembangan permintaan domestik. Dampak ekspansi moneter ke inflasi punya tenggat waktu atau time lag yang lama dan sangat bervariasi.

Apalagi pada kondisi ekonomi yang mengalami pelemahan karena Covid-19 ada penurunan struktural dalam teknisnya. Namun demikian, Perry meyakinkan BI akan terus mencermati segala perkembangan.

"Pada waktunya kalau ada tanda-tanda peningkatan inflasi, BI tidak segan akan tempuh kebijakan yang diperlukan dari sisi moneter, BI punya kaidah-kaidah, kerangka kerja dan disiplin kebijakan untuk kendalikan," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement