Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Virus Corona Mengakhiri Pembelajaran Tatap Muka

Selasa 14 Jul 2020 15:42 WIB

Rep: Retizen/ Red: Elba Damhuri

Corona mengintai di sekolah (ilustrasi)

Corona mengintai di sekolah (ilustrasi)

Foto: republika
Kegiatan belajar mengajar masih memberlakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).

RTIZEN -- Penulis: Erik Kurniawan, SSos, MPd*

Semua bidang kehidupan di masyarakat terdampak covid-19. Salah satu bidang yang sampai saat ini belum pulih benar adalah bidang Pendidikan. 

Pada umunya daerah-daerah (kabupaten/kota dan provinsi) mengakhiri belajaran tatap muka sejak tanggal 16 Maret 2020. 

Bahkan sampai berakhirnya tahun pelajaran 2019/2020, kegiatan belajar mengajar masih memberlakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).

Pemberlakukan pembelajaran secara daring (dalam jaringan) atau biasa disebut PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) secara mendadak membuat pendidik maupun peserta didik beradaptasi terhadap hal tersebut. 

Kegiatan belajar mengajar yang biasanya berada di dalam kelas secara tatap muka tiba-tiba merubah menjadi pembelajaran virtual.

Walupun pada umunya teknologi informasi dan komunikasi baik berupa posel cerdas maupun leptop bukanlah barang langka, namun pada prakteknya ketika pelaksanaan pembelajaran secara virtual mengalami beberapa kendala.

Paling tidak ada 3 (tigal) hal terkait kendala tersebut, antara lain:

1) Guru

Kendala yang dihadapi guru bukanlah kepemilikan ponsel cerdas atau leptop. Karena hampir dipastikan dewasa ini semua guru memiliki perangkat elektronik berupa posel cerdas dan letop. kemampuan guru tidak merata dalam mengoprasikan aplikasi pendukung pembelajaran jarak jauh. 

Maka untuk mengatasi hal tersebut, pada masa libur kenaikan kelas hampir semua sekolah melakukan workshop untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran jarak jauh. Guru-guru dibekali kemampuan untuk mengoprasikan aplikasi pembelajaran jarak jauh. 

Selain itu, penyesuaian perangkat pembelajaran yang adaptif pada masa new normal juga dilakukan agar hasil pembelajaran mampu membentuk siswa lebih peduli terhadap lingkungan khususnya pencegahan dan penanggulangan penyebaran covid-19.

2) Siswa

Tidak semua siswa memiliki ponsel cerdas dan leptop untuk menunjang pembelajaran jarak jauh. Kalaupun memiliki ponsel cerdas ada beberapa siswa hanya memiki paket internet untuk akses messaging (hanya untuk WA, line, BBM dan sejenisnya) sehingga menghambat pembelajaran virtual. 

Maka untuk mengatasi hal tersebut, guru berusaha menyesuaikan kemampuan yang siswa agar pembelajaran berjalan dengan baik. Namun bila ditemukan siswa tidak memiki alat elektronik berupa ponsel cerdas atau leptop, baiknya bergabung dengan teman dekatnya. 

Kalaupun hal tersebut masih menyulitkan siswa, jalan satu-satunya adalah sekolah menyiapkan modul pembelajaran dan siswa tersebut mengambil di sekolahnya lalu dikerjalan siswa dirumahnya masing-masing.

3) Kondisi perekonomian orang tua murid

Tingkat perekonomian keluarga masing-masing siswa tidaklah merata apalagi dalam kondisi new normal sekarang ini. Keluarga yang memiliki kondisi perekonomian baik, bisa jadi mampu membelikan masing-masing anaknya berupa ponsel cerdas, leptop dan kuota internet yang mencukupi. 

Namun tidak sedikit keluarga yang anaknya lebih dari satu orang dan kondisi perekonomian yang sulit sehingga perangkat eletroniknya harus berbagi antara adik dan kakaknya. Hal tersebut menjadi masalah apabila jadwal pelajarannya bersamaan antara jadwal pelajaran adik dan kakak. 

Maka orang tua atau siswa tersebut harus proaktif komunikasi dengan pihak sekolah agar masalah tersebut bisa diselesaikan dengan baik.

4) Jaringan internet

Jaringan internet satu daerah dengan daerah lainnya tidak memiliki kecepatan yang sama, bahkan bisa jadi ada daerah yang belum masuk jaringan internet. Pembalajaran jarak jauh sangat tergantung pada ketersedian jaringan internet. 

Jika daerah tersebut belum ada jaringan internet, maka perlu ada kebijakan yang tidak membebani peserta didik mapun guru yang mengajar.

Kegiatan belajar mengajar sejati masih membutuhkan pertemuan secara langsung antara guru dan murid. Bahasa tubuh seorang guru dalam mengajar sering membuat suasana suasana menjadi menarik dan menggembirakan. Sehingga anak akan betah dan kangen berjumpa dengan gurunya. 

Teknologi sehebat apapun belum mampu menggantikan pembelajaran tatap muka. Raut wajah guru yang teduh dan gimik wajah imut seorang murid masih belum mampu ditampilkan secara utuh dilayar ponsel cerdas maupun leptop, sehingga ikatan hati antara guru dan murid tidak terjalin dengan erat.

Semoga covid-19 segera mampu diatasi dan ditanggulangi di negara Indonesia dan dunia pada umunya sehingga kehidupan berjalan seperti sediakala.

*Erik Kurniawan, SSos, MPd, Guru SMPN 17 Depok, Jawa Barat

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA