Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Dari Air Susunya Terpancar Kesalihan Sang Imam

Selasa 14 Jul 2020 14:35 WIB

Rep: Retizen/ Red: Elba Damhuri

Muslimah shalat. (ilustrasi)

Muslimah shalat. (ilustrasi)

Foto: Yogi Ardhi/Republika
Dari Ibu susu Imam Hasan Al Basri kita bisa memetik hikmah.

RETIZEN -- Penulis: Chusnatul Jannah*

Seorang anak yang terlahir dalam balutan asuhan rumah tangga Nabawi. Dialah Imam Hasan Al Basri. 

Mahligai kota Basrah dan putera asuh Ummul Mukminin, Ummu Salamah. Ibunya adalah seorang sahaya milik Ummul Mukminin, Ummu Salama ra. 

Wanita sahaya itu bernama Khairah. Sedang ayah Hasan Al Basri konon bekas tawanan perang dari Maisan yang jatuh ke tangan Bani Najjar. Namanya adalah Yasar. 

Setelah merdeka, Yasar menikahi Khairah di masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab. Dari pernikahan ini lahirlah Sang Imam. Imam Hasan Al Basri lahir dua tahun sebelum berakhirnya masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab. Di rumah Ummul Mukminin Ummu Salamah inilah Hasan kecil dibesarkan.

Bertumbuh dalam lingkungan yang baik. Beliau diasuh langsung oleh salah satu istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang memiliki banyak keutamaan. Sungguh pengasuhan yang luar biasa. 

Setiap kali Ummu Salamah mengutus ibunda Hasan untuk suatu keperluan, Hasan pun merengek mencari ibunya. Saat itulah Ummu Salamah menggendong lalu menyusuinya hingga Hasan tenang kembali. 

Pada satu waktu, Ummu Salamah mempertemukan Hasan dengan Khalifah Umar bin Khaththab. Lalu Khalifah memanjatkan doa untuknya, "Ya Allah, pahamkanlah ia tentang dien-Mu, dan jadikanlah orang-orang mencintainya."

Dari air susunya terpancar kefaqihan sang Imam. Tetesan air susu ketulusan menjadikan Imam Hasan mendapat rahmat. Yakni mutiara hikmah yang senantiasa mengalir dari lisannya. 

Dari doa penuh berkah yang dipanjatkan Khalifah Umar bin Khaththab, Hasan kecil menjadi ulama mulia yang dikenang dalam sejarah. 

Begitulah pengaruh nutrisi bagi kepribadian anak. Makin baik yang masuk ke dalam oerut, makin baik pula pengaruhnya. Makanan bergizi saja tak cukup. 

Yang tak kalah penting ialah hendaknya ia perhatikan dari mana makanan dan minuman itu ia perolah? Adakah bercampur dengan yang syubhat tau yang haram? Makanan halal lagi thoyyib. Itulah yang semestinya diperhatikan para orang tua. 

Keampuhan doa seseorang juga bergantung pada apa yang masuk dalam perutnya. Semakin baik makana yang masuk, semakin mustajab pula doanya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, tatkala Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Wahai Rasulullah, doakanlah supaya Allah menjadikanku orang yang mustajab doanya." Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, "Wahai Sa'ad, perbaikilah makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang kustajab doanya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangannya; boleh jadi seorang hamba memasukkan sesuap makanan haram ke dalam perutnya, kemudian amalnya tertolak selama 40 hari. Ingatlah, siapanpun yang dagingnya tumbuh dari usaha yang haram dan riba, maka Nerakalah yang lebih layak baginya." (HR. Ath Thabari dalam al Mu'jamul Ausath no. 6684) 

Imam Hasan Al Basri dikenal karena kezuhudannya. Mutiara hikmahnya bagai penawar dahaga. Inilah satu keberhasilan pendidikan yang diberikan Ummu Salamah terhadapnya. 

Sosok ulama yang bersahaja, mulia, dan penuh hikmah. Imam Hasan al Basri mengatakan, "Seorang mukmin mestinya sedih setiap pagi dan sore, dan tak ada yang lebih pantas baginya selain itu. Itu karena dirinya senantiasa dihimpit dua kekhawatiran: dosa di masa lalu, dan ia tak tahu apa yang akan Allah perbuat terhadapnya. Serta umur yang tersisa, sementara ia tak tahu dosa besar apa yang bakal diperbuatnya... " (Hilyatul Auliya', VI/271-272). 

Dari Ibu susu Imam Hasan Al Basri kita bisa memetik hikmah. Islam merupakan satu-satunya agama yang memberikan penghormatan dan peran yang sangat besar terhadap wanita. 

Benarlah apa yang dikatakan Hafizh Ibrahim, penyair kenamaan asal Mesir dalam bait puisinya: Ibu adalah madrasah, yang bila kau siapkan dengan baik Berarti engkau menyiapkan generasi yang terdidik.

Mari teladani sosok-sosok hebat di balik kemasyhuran para ulama. Yaitu, Ibunda mereka. Bercerita kecerdasan Imam Syafi'i. Mengisahkan betapa alimnya Sufyan Ats Tsauri. Atau mencontoh kezuhudan Imam Hasan Al Basri. Tapi terkadang kita lupa membaca dan meneladani sosok Ibunda mereka. 

Disarikan dari buku Ibunda Para Ulama Karya Dr Sufyan bin Fuad Baswedan, MA. 

*Chusnatul Jannah, Jawa Timur

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA