Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Hong Kong akan Terapkan Pembatasan Sosial Paling Ketat

Selasa 14 Jul 2020 11:45 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Aktivitas pasar di Hong Kong, Senin (3/2).Hong Kong akan menerapkan pembatasan sosial paling ketat untuk mencegah penularan Covid-19

Aktivitas pasar di Hong Kong, Senin (3/2).Hong Kong akan menerapkan pembatasan sosial paling ketat untuk mencegah penularan Covid-19

Foto: AP Photo/Achmad Ibrahim
Risiko penularan virus corona di Hong Kong disebut sangat tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Hong Kong akan menerapkan peraturan pembatasan sosial yang baru. Peraturan yang paling ketat sejak awal pandemi itu diberlakukan setelah pemerintah pusat keuangan Asia itu memperingatkan risiko penyebaran virus skala besar sangat tinggi.

Peraturan itu mewajibkan semua orang yang menggunakan transportasi publik memakai masker. Restoran tidak diizinkan lagi melayani makan di tempat dan layanan pesan antar hanya boleh dilakukan setelah pukul 18.00 waktu setempat.

Baca Juga

Dua peraturan baru ini tidak diberlakukan saat Hong Kong mulai mendeteksi gelombang pertama wabah virus corona awal tahun ini. Warga yang tidak memakai masker di ruang publik akan didenda sebesar 5.000 dolar Hong Kong atau sekitar Rp 9.283.000.

Pemimpin Kota Hong Kong Carrie Lam mengatakan pemerintah melarang pertemuan lebih dari empat orang, jauh lebih sedikit dibandingkan peraturan sebelumnya yang membatasi pertemuan di atas 50 orang. Dua belas tipe fasilitas umum seperti gym dan taman bermain harus tutup dalam satu pekan.

"Munculnya kasus lokal yang sumber penularannya tidak diketahui mengindikasi penularan tanpa gejala (silent transmission) di masyarakat," kata pemerintah Kota Hong Kong dalam pernyataan mereka, Selasa (14/7).  

Pada Senin (13/7) kemarin Hong Kong mencatat 52 kasus infeksi virus corona. Pihak berwenang mengatakan 41 di antaranya tertular di dalam kota. Sejak akhir Januari lalu, kota itu sudah melaporkan 1.522 kasus infeksi.

Pemerintah mengatakan sangat khawatir dengan tingginya kasus dari luar negeri. Mereka berencana untuk memberlakukan peraturan yang mewajibkan pengunjung dari negara dengan risiko tinggi mendapatkan hasil negatif dalam pemeriksaan virus corona sebelum sampai di Hong Kong.

Lam mengatakan peraturan baru itu diambil berdasarkan pertimbangan tiga hal yakin kesehatan publik, dampak ekonomi, dan penerimaan sosial. Ia menambahkan ada kemungkinan Hong Kong harus hidup bersama virus corona dalam waktu yang lama.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA