Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Setengah Warga Dunia Kesulitan Akses Data Polusi Udara

Senin 13 Jul 2020 19:51 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Foto udara Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Jumat (3/4/2020). Berdasarkan data dari situs pemantauan udara AirVisual.com pada Kamis 3 April pada pukul 12.00 WIB, Jakarta tercatat sebagai kota dengan indeks kualitas udara di angka 55 atau masuk dalam kategori sedang.

Foto udara Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Jumat (3/4/2020). Berdasarkan data dari situs pemantauan udara AirVisual.com pada Kamis 3 April pada pukul 12.00 WIB, Jakarta tercatat sebagai kota dengan indeks kualitas udara di angka 55 atau masuk dalam kategori sedang.

Foto: Antara/Galih Pradipta
Baru sekitar 30 negara yang sudah menyediakan data kualitas udara secara seketika.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON DC -- Studi terkini menunjukkan bahwa setengah warga dunia tidak memiliki akses ke data polusi udara guna menangkal ancaman kesehatan. Pemerintah di negara dengan level polusi udara tinggi, cenderung tidak punya data transparan.

Riset yang digagas oleh LSM OpenAQ tersebut menganalisis data dari 11 ribu stasiun pengawasan udara di 93 negara. Para peneliti menemukan bahwa semakin banyak jumlah stasiun tersebut, semakin rendah tingkat pencemaran udaranya.

Jika dibandingkan dengan negara maju, negara berkembang kurang memiliki akses ke data polusi udara. Sementara, polusi udara menyebabkan 4,2 juta kematian setiap tahun. Sebanyak 90 persen berasal dari negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Setiap hari, sembilan dari 10 orang di dunia menghirup udara yang tercemar. Kondisi tersebut membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan polusi udara sebagai faktor risiko lingkungan utama yang berdampak pada kesehatan.

Pemakaian bahan bakar fosil adalah penyebab tertinggi polusi udara, yang juga memicu terjadinya krisis iklim. Level polusi udara rata-rata PM2.5 dikaitkan dengan penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru, dan diabetes.

Berdasarkan riset, peneliti tidak mendapati program pemerintah terkait upaya perbaikan kualitas udara di 13 negara. Ini mendampak pada satu miliar warga, yang di antaranya berasal dari Nigeria, Ethiopia, Kongo, Tanzania, dan Kenya.

Sedikitnya terdapat 30 negara yang sudah menyediakan data kualitas udara real-time, namun informasi tidak sepenuhnya transparan. Ini memengaruhi 4,4 miliar warga dunia, termasuk di Cina, India, Indonesia, Brasil, Rusia, Jepang, Filipina, dan Afrika Selatan.

Riset tersebut didukung oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang menggunakan OpenAQ untuk prakiraan kualitas udara global. Ilmuwan atmosfer NASA, dr Bryan Duncan, mengatakan keterbukaan data adalah langkah awal yang penting.

"Untuk memerangi pencemaran udara, kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak buruknya terhadap kesehatan manusia. Membuat data polusi udara mudah diakses sangat penting untuk hal ini," kata dia, dikutip dari laman Independent.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA