Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Monday, 7 Ramadhan 1442 / 19 April 2021

Brigjen Iwan Ceritakan Kengerian Mendaki Mount Everest

Senin 13 Jul 2020 06:43 WIB

Rep: Erik PP/ Red: Erik Purnama Putra

Komandan Korem (Danrem) 173/Praja Vira Braja (PVB) Brigjen Iwan Setiawan.

Komandan Korem (Danrem) 173/Praja Vira Braja (PVB) Brigjen Iwan Setiawan.

Foto: Dok Korem PVB
Jadi kalau Kopassus itu tugas adalah segala-galanya, tugas adalah sebuah kehormatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Staf Anngkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa menerima laporan korps kenaikan pangkat 74 perwira tinggi TNI AD di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta Pusat pada 11 Juni lalu. Di antara 74 pati TNI AD, terdapat Komandan Korem (Danrem) 173/Praja Vira Braja (PVB) Brigjen Iwan Setiawan. Abituren Akademi Militer (Akmil) 1992 ini menjadi danrem yang bermarkas di Biak, Papua dengan pangkat bintang satu.

Iwan bukanlah orang sembarangan. Dibesarkan di satuan Komando Satuan Khusus (Kopassus), ia adalah salah satu perwira yang ikut delegasi pendakian Mount Everest di Nepal pada 1997. Berdasarkan catatan Republika, ketika Pratu Asmujiono mencapai puncak tertinggi di dunia untuk mengibarkan Merah Putih, Sertu Misirin berada 16 meter sebelum puncak, dan Lettu Iwan Setiawan berada 30 meter sebelum puncak.

Untuk Misirin, membutuhkan waktu 30 menit untuk mencapai lokasi Mujiono, dan Iwan perlu satu jam menggapai puncak. Akhirnya diputuskan, Asmujiono yang tetap berada di puncak sembari melantunkan azan, sebelum mereka kembali ke bawah karena cuaca sangat ekstrem. "Saya mendaki Mount Everest di sana, bayangkan suhunya minus 50 derajat (Celcius), sepanjang jalan banyak orang-orang meninggal," kata Iwan dalam siaran Youtube Dispenad, belum lama ini.

Asmujiono, Misirin, dan Iwan merupakan tim yang mendaki dari jalur selatan pada 12 Maret 1997. Ada 10 personel yang lewat jalur selatan. Adapun jalur utara dengan enam personel memulai pendakian pada 22 Maret. Di antara mereka adalah Serda Sumardi, Ogum Gunawan Ahmad (Wanadri), dan Praka Tarmudi hanya mencapai ketinggian 8.600 meter pada 8 Mei, kemudian turun karena cuaca sangat berbahaya.

Menurut Iwan, pendakian ke Mount Everest sangat berisiko karena lebih banyak korban meninggalnya daripada yang selamat. Dia yang baru hitungan bulan menikah, sampai harus meninggalkan istrinya di rumah dinas di Cijantung, Jakarta Timur. "Pendakian Mount Everest itu adalah impian pendakian bagi seluruh pendaki di seluruh dunia, dan saya saat itu belum tahu apa itu Mount Everest. Bayangkan kita naik gunung saja belum pernah, terutama gunung es," ucap Iwan yang kini jabatannya membawahi 11 wilayah di Papua.

Mantan Danrem 052/Wijayakrama ini, menuturkan, sebelum ikut tim pendakian, ia baru lulus pendidikan komando. Kala mendengar ada pengumuman seleksi pendakian Mount Everest, Iwan yang merasa masih muda dan memiliki fisik bagus langsung mendaftar.

"Jadi kalau Kopassus itu tugas adalah segala-galanya, tugas adalah sebuah kehormatan termasuk Mount Everest, dan alhamdullah saya menjadi salah satu perwira Akademi Militer yang lolos dan lulus untuk ikut pelaksanaan ekspedisi Mount Everest ini," ucap Iwan yang didampingi sang istri saat wawancara di Mabesad.

Dia mengaku, setelah mengetahui Mount Everest adalah puncak gunung tertinggi di dunia, segala risiko yang muncul mulai dirasakannya. Pasalnya para pendaki Mount Everest memiliki peluang kecil untuk bisa mendaki sampai puncak. Dari 100 pendaki, menurut Iwan, kemungkinan hanya 10 orang yang bisa sampai puncak, dan dari 10 orang kemungkinan tiga yang bisa selamat untuk turun kembali ke bawah.

Menyadari itu, Iwan sebelum berangkat meminta izin kepada Danjen Kopassus Mayjen Prabowo Subianto untuk menikahi gadis pujaannya, yaitu Betty Siti Supartini. Iwan pun bersyukur mendapat izin, dan kemudian melangsungkan pernikahan sebelum berangkat ke Nepal.

Betyy mengaku, sempat khawatir dengan keselamatan suaminya kala mendaki ke puncak dunia. Pasalnya, ketika Iwan masih menjalani pelatihan di Bandung, Betty sempat melihat pendakian yang dilakukan delegasi negara lain, yang pendakinya banyak meninggal.

"Saya menikah sebulan, ikut ke Cijantung saya sudah hamil masuk dua bulan, ditinggal bapak melaksanakan tugas, meskipun risikonya mati waktu itu. Kalau suami saya tak kembali, anak ini tak ada bapaknya," ucap Betty yang merasa bangga dengan pencapaian suaminya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA