Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Pemerintah Harus Dorong Daya Saing Kereta Api Barang

Jumat 10 Jul 2020 03:24 WIB

Rep: djoko suceno/ Red: Hiru Muhammad

Pekerja pengiriman barang melakukan pengiriman paket motor melalui kereta api, di Stasiun Selatan, Kota Bandung, Senin(27/6). (Foto: Mamu Muhyidin)

Pekerja pengiriman barang melakukan pengiriman paket motor melalui kereta api, di Stasiun Selatan, Kota Bandung, Senin(27/6). (Foto: Mamu Muhyidin)

Foto: Mahmud Muhyidin
Penggunaan kereta api barang memiliki banyak manfaat

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Pemerintah harus mendukung dan mendorong peningkatan daya saing kereta api barang. Pasalnya penggunaan moda ini memiliki multimanfaat. Daya saing kereta api barang yang kalah terhadap moda transportasi jalan dan laut, kata Setijadi, mengakibatkan penggunaan moda rel masih sangat kecil yaitu berkisar 1,1 persen

"Daya saing kereta api barang harus didorong pemerintah," kata Chairman Supply Chain Indonesia (SCI),  Setijadi dalam siaran persnya yang diterima Republika.co.id, Kamis (9/7). Sementara, transportasi jalan (trucking) mendominasi sekitar 91,3 persen dan moda transportasi laut sekitar 7,6 persen. Padahal moda transportasi rel  memiliki multi manfaat.

Selama ini, daya saing kereta barang  terkendala antara lain karena terbebani dua komponen pungutan yang besar yakni PPN 10 persen dan track access charge (TAC). Selain mengkaji ulang pengenaan PPN dan TAC, pemerintah juga perlu mempertimbangkan pemberian subsidi bahan bakar minyak (BBM) kereta barang untuk semua komoditas dan semua wilayah."Proporsi nilai BBM bersubsidi untuk kereta barang sangat kecil. Dari analisis SCI, BBM kereta barang hanya sekitar 1,02 persen dari kuota BBM bersubsidi sektor transportasi, sehingga biaya subsidinya sangat kecil dibandingkan manfaat yang banyak tersebut," tutur dia.

Selain itu, lanjut Setijadi, pemerintah juga harus mendorong pengalihan pengangkutan barang ke kereta api dengan regulasi beserta implementasi di lapangan yang kuat. Langkah ini bisa disinergikan dengan implementasi zero overdimension & overload (ODOL) yang tengah berjalan.

Menurut Setijadi, multi manfaat penggunaan kereta barang pertama, penurunan tingkat kemacetan,  karena kapasitas pengangkutan kereta yang besar. Kereta barang dapat menarik 30 rangkaian yang masing-masing mengangkut satu kontainer 40 kaki atau dua kontainer 20 kaki. Hal ini berarti satu  kereta barang dapat mengalihkan penggunaan 30 truk kontainer 40 kaki atau 60 truk kontainer 20 kaki.

Kedua, sambung Setijadi, penurunan risiko kecelakaan (patah sumbu dan ban pecah) akibat truk overload. Ketiga, penurunan tingkat kerusakan jalan akibat truk overload. Rel mempunyai daya dukung beban yang lebih tinggi daripada jalan. Keempat, penurunan biaya transportasi dan logistik yang akan mempengaruhi daya saing produk nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Kelima, peningkatan produktivitas armada dan pengguna jalan lainnya akibat kemacetan yang berkurang. Keenam, penurunan konsumsi bahan bakar dan penurunan tingkat pencemaran udara dengan pengalihan penggunaan truk yang banyak.’’Tingkat pencemaran udara kereta sangat rendah, emisi CO2-nya hanya 0,036 kg per ton-km, sedangkan truk sekitar 1,38-1,40 kg per ton-km yang berarti hampir 40 kali lebih tinggi,’’ tutur dia. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA