Kamis 09 Jul 2020 02:15 WIB

JK: Membangun Peradaban Islam Memerlukan Tiga Syarat

JK menyebut ada tiga syarat membangun peradaban Islam.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
JK: Membangun Peradaban Islam Memerlukan Tiga Syarat. Foto: Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (JK) saat menghadiri peresmian Masjid Amir Hamzah di Komplek Taman Ismail Marzuki, Jakarta, bersama Gubernur DKI Jakarta dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Jumat (3/7).
Foto: Dok. Tim JK
JK: Membangun Peradaban Islam Memerlukan Tiga Syarat. Foto: Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (JK) saat menghadiri peresmian Masjid Amir Hamzah di Komplek Taman Ismail Marzuki, Jakarta, bersama Gubernur DKI Jakarta dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Jumat (3/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla (JK), menyebut ada tiga syarat dalam membangun peradaban Islam. Tiga hal itu adalah pengetahuan sains yang maju, kemakmuran umat, serta pemimpin yang adil.

"Kalau kita melihat sejarah dunia dan umat Islam, generasi Rabbani setidaknya punya tiga syarat yang harus dipenuhi. Pertama ilmu pengetahuan sains yang maju, kemakmuran masyarakat yang baik dan pemimpin yang adil," ujar JK dalam webinar nasional yang diadakan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI), Rabu (8/7).

Baca Juga

Merujuk pada topik pembahasan "Membangun Peradaban Islam Berbasis Masjid", ia menyebut berdasarkan sejarah abad  9 hingga 13, kaum Abbasiyah memiliki tiga syarat itu.

Di tahun tersebut, umat Muslim menguasai pusat ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan berdampingan dengan tumbuhnya kemakmuran masyarakat serta kepemimpinan yang baik.

Setelah abad ke-13, muncul masa kegelapan. Di mana setelahnya, peradaban Eropa muncul dan menguasai dunia. Pengetahuan dan kekuasaan Eropa kala itu sangat kuat menyebabkan umat Islam kembali pada masa keterbelakangan.

Di abad ke-20 ini, umat Muslim ingin kembali ke masa kejayaan yang dulu pernah diraih. Banyak negara Islam yang kaya, utamanya di Timur Tengah, namun masih belum berjaya. Bahkan di antaranya saling menghancurkan.

"Indonesia dan Asia Tengara berkembang dengan lebh baik dibanding negara lain. Syaratnya ekonominya baik, namun pendidikannya masih buruk," lanjut JK.

Di DMI sendiri, ia menyebut memiliki moto 'Memakmurkan dan Dimakmurkan Masjid'. Jangan lagi berpikiran semata memakmurkan dan memajukan masjid, tapi juga memaksimalkan fungsi lain masjid, memakmurkan masyarakat.

Memakmurkan masyarakat ini berhubungan dengan pengetahuan dan ekonomi, yang kedepannya berkaitan dengan memajukan peradaban. Ada ilmu pengetahuan yang menjadi dasar meningkatnya ekonomi peradaban.

Selain memaksimalkan fungsi ibadah, masjid juga bisa dikembangkan untuk mengelola maayarakat. Salah satunya dengan memperbaiki ekonomi dan pengetahuan.

Mantan wakil presiden RI ini juga menyebut Indonesia perlu bersyukur, hampir di semua sekolah dan universitas memiliki masjidnya. Ada tempat bagi umat Muslim untuk beribadah sembari menimba ilmu.

Fungsi hubungan ubudiyah umat kepada Allah (Hablumminallah) dan hubungan horizontal atau muamalah kepada sesama muslim dan makhluk Allah lainnya (Hablumminannas) berjalan secara seimbang di masjid.

"DMI berusaha membantu masyarakat dalam membangun peradaban. Salah satunya melakukan MoU atau kerja sama dengan bank syariah, salah satunya membahas bagaimana mendapat bantuan dari bank syariah," katanya.

Semua usaha dan upaya untuk memakmurkan masyarakat sekitar masjid bisa dimungkinkan. Dengan syarat, pengurus masjid juga aktif dan mengerti kebutuhan masyarakatnya.

Zaman Abbasiyah dan Utsmaniyah, disebut harus menjadi contoh dan dibangkitkan lagi. Jika keilmuan ini tidak dikuasai, maka nantinya akan bergantung pada pihak lain.

Indonesia, dengan dasar ukhuwah, pikiran wasathiyah dan moderasi, diharap bisa menjaga keilmuan yang dimiliki. Menggabungkan keilmuan dan agama adalah hal yang baik, apalagi jika digabung dengan kepemimpinan yang adil.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement