Senin 06 Jul 2020 11:29 WIB

Melacak Perkembangan Islam di Ternate

Ada sejumlah teori masuknya Islam ke Ternate.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil
Melacak Perkembangan Islam di Ternate. Foto: Masjid Kesultanan Ternate
Foto: Andi Nur Aminah
Melacak Perkembangan Islam di Ternate. Foto: Masjid Kesultanan Ternate

REPUBLIKA.CO.ID,TERNATE – Sejak zaman purba, perairan Asia Tenggara berada dalam jalur pelayaran yang menghubungkan negeri China dengan negeri atas angin (India, Persia, Timur Tengah, dan berlanjut ke Eropa). Dalam hal ini, Ternate mengambil peran penting dalam pembentukan sejarah dunia.

Di masa penting ini pula, Islamisasi wilayah timur Nusantara berpusat di Ternate.

Baca Juga

Dalam buku Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia karya Hasan Muarif Ambary dijelaskan, Ternate memang mempunyai banyak kelebihan dalam kedudukannya di masa kejayaan rempah. Jika ditinjau dari sisi zoogeografi, wilayah ini merupakan transmisi antara dua lini fauna yakni Wallace dan Weber.

Sedangkan dari segi linguistik, Ternate dan Maluku dianggap sebagai bagian dari tanah asal suku-suku bangsa pengguna bahasa Austronesia. Ternate juga merupakan lintasan strategis migrasi manusia dan budaya dari Asia Tenggara ke wilahan Melanesia, Mikronesia, Oceania, dan terus ke arah timur.

Sedangkan dalam segi ekonomi, Ternate dan Maluku merupakan wilayah penghasil rempah-rempah paling utama di dunia. Yang pada akhirnya turut mengubah geopolitik dunia.

Dari fenomena-fenomena yang menonjol itu, perkembangan budaya di Ternate menunjukkan hal-hal bersifat khusus namun tetap dalam kesatuan budaya Nusantara. Kemudian, Ternate menjadi basis Islamisasi untuk wilayah Timur Nusantara, khususnya Maluku.

Masa pertumbuhan dan perkembangan karakter utama Islam sampai kedatangan bangsa-bangsa Eropa di Ternate tercatat pada abad 15 Masehi hingga abad 17 Masehi. Dijelaskan pula bahwa Islam yang berkembang di Ternate diawali dari Malaka, Kalimantan, dan Jawa.

Kala itu, Banjar dan Giri atau Gresik cukup kuat pengaruhnya dalam mensosialisasikan Islam di Ternate dan Tidore. Sebelum terjadi arus balik, yakni penyebaran Islam dari Ternate ke arah barat yakni Buton dan daerah lain di Sulawesi Selatan.

Pola sosialisasi Islam di Ternate sama halnya dengan pola Islamisasi Islam di Tidore, Jailolo, dan Mataram. Yakni satu proses di mana elite kerajaan belajar Islam di pusat-pusat pengajaran Islam Nusantara, Giri atau Gresik.

Setelah selesai belajar, mereka kembali ke tempat asalnya dan langsung mengislamkan masyarakat kerajaan. Dalam proses ini tentu tidak menutup kemungkinan adanya mubaligh yang datang ke Ternate dan memperkenalkan Islam lebih dulu.

Kemungkinan lain, Islam datang ke Ternate melalui jalan China Selatan dan tidak melalui Selat Malaka. Hingga saat ini, teori tempat jalur Islamisasi di Ternate masih dalam proses kajian.

Namun yang penting dicatat adalah, Islam dianggap telah masuk ke Maluku pada abad ke-14 Masehi sebagaimana yang terkandung dalam tradisi lisan yang menyebutkan bahwa Raja Ternate 12 akrab dengan pedagang Arab.

Pada abad ke-15, Ternate merupakan pusat kekuasaan utama di kepulauan rempah-rempah ini.

Kemudian, Ternate bergabung dengan tiga kerajaan lain yakni Tidore, Bacan, dan Jailolo. Dan Ternate-lah yang memimpin aliansi tersebut yang dibangun pada abad ke-16 Masehi dengan pemerintahan yang berpusat di bukit Foramadyahe.

Namun demikian, aliansi ini menimbulkan rivalitas antara Ternate dengan Tidore. Di mana keduanya masing-masing memperkuat diri mereka untuk bersekutu dengan kekuatan asing. Tidore menggandeng Spanyol dan Ternate dengan Portugis. Persekutuan Ternate dengan Portugis pada akhinya mengalahkan Tidore pada 1529 Masehi.

Namun akibat agresivitas Portugis, Ternate memerangi kekuatan Portugis namun berakhir dengan terbunuhnya Sultan Khairun di Loji Portugis. Barulah pada masa pemerintahan berikutnya di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah, Portugis dapat ditakhlukkan dan dapat diusir dari Ternate.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement