Senin 06 Jul 2020 05:54 WIB

Iran: Israel Hanya Memahami Satu Bahasa, Perlawanan!

Iran mendukung persatuan Palestina melawan Israel.

Rep: IRNA/ Red: Elba Damhuri
 Unta berjalan di dekat desa Tepi Barat Al Fasayil, di Lembah Yordan, Selasa, 30 Juni 2020. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tampaknya bertekad untuk melaksanakan janjinya untuk mulai menganeksasi bagian-bagian Tepi Barat yang diduduki, mungkin secepat Rabu .
Foto: AP / Oded Balilty
Unta berjalan di dekat desa Tepi Barat Al Fasayil, di Lembah Yordan, Selasa, 30 Juni 2020. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tampaknya bertekad untuk melaksanakan janjinya untuk mulai menganeksasi bagian-bagian Tepi Barat yang diduduki, mungkin secepat Rabu .

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Tanah Palestina makin sempit sejak Israel makin agresif mencaplok Palestina. Iran mengkritik keras tindakan pencaplokan Israel yang disebutnya sebagai tindakan penjajahan dan terorisme.

Diplomat Iran sebuah pesan mengatakan pencaplokan Tepi Barat oleh rezim Israel dianggap sebagai pencurian tanah-tanah Palestina yang tidak tahu malu.

Iran menggambarkan pendudukan Israel yang tidak pernah puas, yang tidak hanya menjarah tanah Palestina tetapi juga melanggar peraturan internasional dan hak asasi manusia.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan berlalunya waktu telah membuktikan bahwa Zionis hanya memahami bahasa perlawanan, dan kompromi dan fleksibilitas tidak pernah bekerja saat berurusan dengan mereka.

"Kami selalu mendukung rakyat Palestina dan percaya bahwa perjuangan rakyat Palestina akan menghalangi realisasi rencana seperti kesepakatan abad ini, serta petualangan Zionis baru-baru ini untuk mencaplok bagian dari Tepi Barat," katanya.

Upaya beberapa pihak untuk menormalkan hubungan Palestina dengan rezim pendudukan ini, menurut dia, adalah kesalahan strategis.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ingin mencaplok Tepi Barat, tetapi berkat gelombang pertentangan dan kritik internasional, rencana itu belum dilaksanakan.

Kelompok-kelompok Palestina seperti Hamas dan Fatah telah memperingatkan implikasi atas rencana dan konsekuensinya.

Sebelumnya, Kepala PBB António Guterres mendesak Israel untuk membatalkan rencana aneksasi.

"Jika diterapkan, pencaplokan akan menjadi pelanggaran paling serius terhadap hukum internasional," tambahnya.

 

sumber : IRNA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement