Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Masyarakat Diajak tak Membeli Baju Selama 3 Bulan, Ada Apa?

Ahad 05 Jul 2020 23:01 WIB

Red: Qommarria Rostanti

Baju baru (ilustrasi).

Baju baru (ilustrasi).

Foto: designocd.com
Gerakan Mulai dari Lemari ini akan berlangsung mulai 15 Juli hingga 15 Oktober 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komunitas Zero Waste Indonesia (ZWID) mengajak orang-orang berkomitmen tidak membeli pakaian baru selama tiga bulan. Hal tersebut sebagai implementasi slow fashion untuk mengurangi sampah fesyen dan limbah tekstil.

Gerakan Mulai dari Lemari ini akan berlangsung mulai 15 Juli hingga 15 Oktober 2020. Orang yang ikut berpartisipasi diajak untuk mencari alternatif baju baru seperti meminjam, menyewa, bertukar, menjahit sendiri, atau membeli baju bekas.

Membeli baju baru sah-sah saja bila memang butuh dan bukan sekadar tergiur tren. Terlebih bila membeli dari label fesyen berkelanjutan atau label lokal untuk mendukung wirausaha yang terdampak pandemi Covid-19.

Seiring berkembangnya zaman, industri fesyen bergulir begitu cepat. Berbagai label gencar mengeluarkan koleksi barunya demi mengikuti tren.

Fesyen cepat (fast fashion) menjadi sesuatu yang banyak diminati berimbas pada perilaku konsumerisme. "Di mana orang-orang membeli pakaian baru demi mengikuti tren semata dengan jumlah lebih dari yang mereka butuhkan," kata pendiri Komunitas Zero Waste Indonesia, Maurilla Sophianti Imron, dalam keterangan tertulisnya, Ahad (5/7).

Dia mengatakan industri tekstil merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. "Jika terus menerus seperti ini bukankah tidak baik juga untuk diri sendiri dan lingkungan," kata dia.

Dilansir di Global Fashion Agenda, limbah tekstil diperkirakan bertambah sebanyak 60 persen antara 2015 sampai 2030. Untuk itu, gerakan ini diharapkan bisa diikuti setidaknya 5.000 orang yang mendaftarkan komitmennya hingga 14 Juli bisa berkontribusi memperpanjang umur pakaian hingga sembilan bulan dan dapat mengurangi emisi karbon global hingga 30 persen.

Orang-orang diajak untuk menjadi konsumen yang lebih bijak dan memaksimalkan pakaian yang ada. Membeli baju baru pun tak masalah, selama didorong oleh kebutuhan, bukan cuma keinginan atau sekadar ikut-ikutan tren.

Head of Public Relations and Marketing yang juga Project Manager #TukarBaju, Amanda Zahra Marsono, mengatakan kampanye ini fokus kepada pembentukan kesadaran mengenai implementasi slow fashion dalam konsep fesyen berkelanjutan.

Orang-orang yang telah mendaftarkan komitmennya punya kontrol penuh mengenai konsumsi pakaian sesuai kenyamanan berproses dan kebutuhan masing-masing. Diharapkan gerakan ini bisa memberikan kesadaran bahwa berkontribusi untuk lingkungan juga bisa dimulai dari lemari pakaian sendiri.


sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA