Kamis 02 Jul 2020 16:46 WIB

Sejak Januari, Terjadi 94 Bencana di Kota Tasikmalaya

Bencana akibat cuaca ekstrim adalah yang paling mendominasi

Rep: Bayu Adji P/ Red: Esthi Maharani
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya Ucu Anwar
Foto: Republika/Bayu Adji P
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya Ucu Anwar

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya mencatat sejak awal Januari terjadi 94 bencana alam di wilayah itu. Bencana akibat cuaca ekstrim adalah yang paling mendominasi dan menimbulkan kerusakan paling banyak.

Berdasarkan catatan BPBD Kota Tasikmalaya, terjadi 52 bencana akibat cuaca ekstrim, dengan rincian sembilan kejadian akibat pohon tumbang dan 43 kejadian rumah rusak. Dari kejadian itu, 11 rumah terdampak pohon tumbang dan 89 rumah terdampak cuaca ekstrim.

Kendati demikian, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, Ucu Anwar mengatakan, tak ada korban jiwa akibat kejadian itu. "Tak ada korban jiwa hanya ada luka ringan saja," kata dia saat dihubungi Republika, Kamis (2/7).

Selain itu, terjadi juga bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi, gerakan tanah, dan sambaran petir. Ucu menyebutkan, bencana tanah longsor merupakan yang tertinggi kedua di Kota Tasikmalaya, dengan 22 kejadian. Tanah longsor di Kota Tasikmalaya menyebabkan 26 rumah dan 38 KK atau 113 jiwa terdampak.

Selanjutnya, peristiwa gerakan tanah terjadi sembilan kali yang mengakibatkan 17 KK atau 64 jiwa dan 15 rumah terdampak. Sementara bencana lainnya yang terjadi adalah banjir, gempa bumi, dan sambaran petir.

Ucu mengimbau warga untuk tetap waspada mengjadapi bencana. Meski saat ini intensitas hujan mulai berkurang, tapi ancaman bencana masih berpotenso terjadi.

"Saat ini kita sudah memasuki masa pancaroba, jadi kita juga bersiap menghadapi bencana yang biasa terjadi pada musim kemarau," kata dia.

Ucu mengatakan, pihaknya sudah melakukan antisipasi bencana kekeringan yang biasa terjadi musim kemarau. Menurut dia, sejak jauh hari pihaknya sudah mengimbau kepada masyarakat yang tinggal wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan. Masyarakat diimbau rajin menanam lahan kritis, membuat biopori saat hujan, dan membuat tandon air atau sumur resapan.

"Namun, jika terjadi kekerangan di beberapa kelurahan yang rawan, BPBD menyiapkan bantuan air bersih. Kita pantau, sudah ada beberapa warga sudah ada yang konsen melakukan itu. Misalnya di Tamansari daerah yang sering kekurangan air," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement