Rabu 01 Jul 2020 10:25 WIB

Riau Minta Bantuan Pusat Jalankan Operasi Hujan Buatan

Pada Rabu pagi, Riau mencatat 16 titik panas indikasi awal kebakaran hutan dan lahan.

Pada Rabu pagi, Riau mencatat 16 titik panas indikasi awal kebakaran hutan dan lahan.
Foto: Antara/Rony Muharrman
Pada Rabu pagi, Riau mencatat 16 titik panas indikasi awal kebakaran hutan dan lahan.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Pemerintah Provinsi Riau meminta bantuan dari pemerintah pusat untuk menjalankan operasi hujan buatan guna mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Permintaan bantuan untuk menerapkan teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan diajukan ke pemerintah pusat karena pemerintah daerah tidak punya cukup dana untuk membiayai operasi.

"TMC (teknologi modifikasi cuaca) akan sangat potensial sekali untuk menekan karhutla di Provinsi Riau. Kita melakukan usulan TMC mumpung awan-awan potensial masih ada," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau Edwar Sanger kepada wartawan di Pekanbaru, Rabu (1/7).

Baca Juga

Operasi hujan buatan, menurut dia, akan memperkuat upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang juga mencakup upaya pemadaman kebakaran dari darat dan udara. Di Riau kini ada tujuh helikopter yang disiagakan untuk mendukung operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, yang terdiri atas lima helikopter untuk pemadaman dan dua helikopter untuk patroli.

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada Rabu pagi 16 titik panas indikasi awal kebakaran hutan dan lahan terdeteksi di wilayah Riau. Titik panas tersebar di Kabupaten Indragiri Hilir (8), Pelalawan (2), Siak (2), serta masing-masing satu titik di Kampar, Rokan Hilir, Rokan Hulu, dan Kota Pekanbaru.

Di samping itu, Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut atau Sipalaga Badan Restorasi Gambut menunjukkan bahwa tinggi permukaan air di lahan gambut Provinsi Riau menurun hingga di bawah 40 cm. Ketika lahan gambut mengering, risiko kebakaran akan meningkat, dan kalau lahan gambut sudah terbakar maka akan susah dipadamkan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement