Selasa 30 Jun 2020 17:48 WIB

Kementerian BUMN Fasilitasi Kawasan Industri Batang

Lahan seluas 4.000 ha disiapkan pemerintah untuk pengembangan Kawasan Industri Batang

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Nidia Zuraya
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Menteri BUMN Erick Thohir (kedua dari kiri) saat meninjau Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6).
Foto: Dok Kementerian BUMN
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Menteri BUMN Erick Thohir (kedua dari kiri) saat meninjau Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6).

REPUBLIKA.CO.ID, BATANG -- Pemerintah akan melakukan berbagai upaya untuk mempercepat pembangunan kawasan industri yang terintegrasi. Termasuk salah satunya Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah, yang ditinjau Presiden Joko Widodo pada hari ini, Selasa (30/6).

Kawasan yang terletak di Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang tersebut dikembangkan selain untuk menjadi salah satu tumpuan pengembangan industri di Indonesia, juga memberi kesempatan kerja yang seluas-luasnya bagi masyarakat setempat.

Baca Juga

Dalam kunjungan tersebut, Presiden didampingi Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir, anggota Wantimpres Habib Luthfi, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Kepala BNPB Doni Monardo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Bupati Batang Wihaji.

Setidaknya, kurang lebih 4.000 hektare lahan disiapkan pemerintah untuk pengembangan kawasan industri terpadu ini. Pada fase pertama, 450 hektare dari jumlah tersebut disiapkan untuk membangun tiga zona, yakni manufaktur dan logistik, inovasi dan ekonomi kreatif, serta industri ringan dan menengah.

"Kita akan siapkan kurang lebih 4.000 hektare di sini dan untuk tahapan pertama akan disiapkan kurang lebih 450 hektare terlebih dahulu," kata Presiden Jokowi.

Presiden mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh kalah dengan negara-negara lainnya yang juga sibuk berbenah untuk memberikan kemudahan dan pelayanan bagi investasi yang masuk ke negara mereka.

Dalam kesempatan sama Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan Kawasan Industri Terpadu Batang akan diprioritaskan untuk kawasan industri manufaktur dan logistik, industri inovasi dan ekonomi kreatif, dan industri ringan serta menengah. Bahkan, ungkapnya, khusus untuk menarik investor lebih banyak, KIT Batang akan menerapkan konsep baru, yakni para investor tidak perlu membeli lahan.

Para investor, lanjut Erick, bisa menyewa dalam jangka waktu panjang dengan melakukan kerjasama dengan Holding Perkebunan yang dikoordinasikan PTPN III. "Pengembangan Kawasan Industri Terpadu Batang ini merupakan kolaborasi antara BUMN dengan BPKM. Melalui PTPN III, kami yang akan membebaskan lahan sehingga tanah seluruh kawasan ini menjadi milik BUMN dan akan memudahkan serta meyakinkan kerjasama dengan investor yang datang untuk menanamkan modal dengan cara sewa lahan berjangka panjang," paparnya.

Fokus Pemerintah untuk lebih dulu mengembangkan Kawasan Industri Terpadu Batang juga didorong untuk meningkatkan perekonomian di Jawa Tengah, sekaligus mendorong agar kawasan industri ini mampu bersaing dan menjadi pengimbang dengan kawasan industri di Jakarta dan Pasuruan, Jawa Timur.

Selain itu, dengan keberadaan kawasan industri Batang diharapkan Jawa Tengah akan mampu memperbesar Upah Minimum Regional (UMR) yang masih tergolong rendah dan meningkatkan pemerataan kualitas sumber daya manusia. Dalam tahap pertama pengembangan KIT Batang di lahan seluas 450 hektare diperkirakan akan menampung 30 ribu tenaga kerja lokal.

Dukungan infrastruktur untuk kawasan tersebut juga sudah komplit karena terletak di sisi utara Tol Trans Jawa sudah disiapkan Jasa Marga dilalui jalur kereta api dan akan disiapkan oleh PT KAI untuk menjadi dry port, sedangkan PLN menyiapkan jaringan liatrik, saat ini PLTU Batang memiliki kapasitas 2x1.000 MW dan PLTS 50 MW.

BUMN lain yang memfasilitasi Kawasan Industri Batang adalah, Perkebunan Nusantara dan PPTN 9 akan menyediakan lahan dan memproses konversi HGU ke HPL,  PT PP bersama PT KIW akan merencanakan master development, Pelindo III akan mengelola pelabuhan dan Pertamina akan menyediakan jaringan gas dan bahan bakar.

“Sesuai dengan arahan Presiden, untuk mempercepat pembangunan Kawasan Industri Batang ini, Kementerian BUMN akan segera mengintegrasikan semua BUMN terkait dan bekerja sama dengan BUMD dan Swasta. Jika dikaitkan dengan persaingan ekonomi global yang semakin ketat di era post Covid-19, upaya Indonesia menambah kawasan industri khusus di Jawa Tengah, seperti halnya KIT Batang ini menjadi keharuskan untuk meningkatkan daya saing,” jelas Menteri BUMN.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement