Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Andy Murray: Perubahan Jadwal ATP Masih tak Aman

Senin 29 Jun 2020 20:44 WIB

Red: Endro Yuwanto

Petenis asal Inggris Andy Murray.

Petenis asal Inggris Andy Murray.

Foto: EPA-EFE/JULIEN WARNAND
ATP dinilai terlalu memaksakan agenda yang terlampau padat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemegang tiga gelar grand slam Andy Murray menilai bahwa kalender jadwal ATP yang direvisi masih tidak aman bagi para pemain. Ini karena terlalu memaksakan agenda yang terlampau padat dengan tujuh turnamen hanya dalam beberapa pekan hingga akhir tahun.

Turnamen ATP, yang ditangguhkan pada bulan Maret karena wabah virus corona, akan dimulai kembali pada 14 Agustus 2020 dengan Citi Open, diikuti Cincinnati Masters yang akan diadakan di Flushing Meadows sebelum US Open.

Sementara untuk turnamen lapangan tanah liat akan dimulai pada 8 September di Kitzbuhel, diikuti oleh turnamen Masters di Madrid pada 13 September dan Rome Masters pada 20 September. Lalu French Open mengikuti satu pekan kemudian.

"Tidak aman bagi para pemain untuk pergi dari semifinal atau final di New York, kemudian ke Madrid ketika mereka belum berkompetisi untuk waktu yang lama. Anda berpotensi tidak bertemu banyak petenis top yang tidak bersaing di acara besar," kata Murray dalam laporan Reuters, Senin (29/6).

Pemain asal Inggris berusia 33 tahun itu mengatakan, dengan agenda mendatang yang padat, maka perlu dilakukan perubahan cepat sehubungan dengan poin dan peringkat pemain.

Murray berencana akan melewatkan turnamen di Cincinnati demi melakukan persiapan agar bisa mengikuti grand slam di Amerika Serikat. "Saya lebih suka bermain di Washington dan melewatkan agenda di pekan sebelumnya," katanya menambahkan.

Murray untuk pertama kalinya kembali ke lapangan di turnamen amal pekan ini setelah absen selama tujuh bulan akibat cedera punggung.


sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA