Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Ketua DPC PDIP Tangsel Tuding Pembakar Bendera Kader HTI

Senin 29 Jun 2020 18:23 WIB

Rep: Abdurrahman Rabbani/ Red: Bayu Hermawan

Kader PDIP (ilustrasi)

Kader PDIP (ilustrasi)

Foto: Republika
Kader PDIP menggelar aksi unjuk rasa di Mapolresta Tangerang Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN -- Ratusan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melakukan aksi simpatik di markas Polres Kota Tangerang Selatan, Senin (29/6). Mereka menggelar aksi menuntut peristiwa pembakaran bendera partai pada 24 Juni lalu saat demo menolak RUU HIP di depan gedung Parlemen, Jakarta.

Dari pantauan Republika.co.id, massa kader PDIP berkumpul di depan Polres Kota Tangsel sambil mengimbarkan bendera berlambang banteng. Salah satu dari mereka lakukan orasi dan menuntut pihak kepolisian untuk mengusut tuntas pembakaran. Mereka juga menuntut hukuman bagi pembakar bendera partai.

Baca Juga

Nampak puluhan aparat kepolisian diturunkan untuk mengamankan aksi yang digelar para kader PDIP. Polisi pun membentuk barisan seraya menjaga ketat agar aksi simpatik berjalan lancar dan kondusif.

Ketua DPC PDIP Kota Tangsel Wanto Sugito mengatakan pembakaran bendera partai pada waktu lalu membuat kader PDIP marah. Pihaknya menuntut pihak kepolisian untuk segera menangkap pelaku pembakaran.

"Kita minta pada polisi untuk segera menangkap pelaku pembakaran. Membakar bendera partai menginjak harga diri kader kami. Oleh karena itu siapapun yang membakar bendera partai harus segera ditangkap, kalo tidak ditangkap kita kejar," kata Wanto.

Lebih lanjut, sebagai ketua DPC, ia mengaku mendapat perintah dari ketua umum PDIP Megawati Soekarno Putri terkait kejadian tersebut, ditempuh melalui jalur hukum. Pihaknya juga telah menyuarakan seluruh kader partai PDIP se Indonesia juga meminta pihak kepolisian mengusut dan menangkap pelaku.

Sementara, Wanto menduga pembakar bendera PDIP adalah organisasi politik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), meski HTI kini telah resmi dibubarkan pemerintah Indonesia. Menurutnya mereka ingin mengganti ideologi pancasila dengan ideologi impor dan ingin membentuk negara Islam. 

"HTI juga harus segera ditangkap," ucap.

Ia menjelaskan, pada zaman demokrasi seperti ini satu-satunya jalan adalah jalur konstitusi dan jalur penegakkan hukum menjadi sangat penting. Pihaknya pun meminta penegakkan hukum dilaksanakan sebaik-baiknya.

"Karena PDIP seluruh kadernya ideologis, pengikut Bung Karno, maka kalo kulit disakiti (bendera partai) ya kita marah. Kita itu kader militan," katanya.

Sementara, Wakapolres Kota Tangsel Kompol Stephanus Luckyto mengatakan kesimpulan yang dapat disampaikan dari hasil pertemuan dengan ketua DPC PDIP, yakni pihak pengurus menyampaikan aspirasi meminta mengungkap pelaku pembakar bendera.

"Mereka menyampaikan kepada kami untuk dapat mengungkap siapa pelaku dan apa motif pembakaran tersebut," ujarnya.

Pihak kepolisian juga sangat mengapresiasi upaya-upaya dari DPC PDIP Kota Tangsel dalam menyampaikan aspirasi melaui koridor-koridor hukum yang berlaku di negara Indonesia. Kata Luckyto, permasalahan yang dihadapi harus ditempuh melalui mekanisme hukum.

Terkait dengan perizinan aksi yang dilakukan, Luckyto menjelaskan bahwa sudah melakukan pendekatan penyampaian kepada mereka. Dirinya juga mengimbau dalam pelaksanan aksi juga tetap menggunakan protokol kesehatan. 

"Upaya-upaya yang mereka lakukan sebelum aksi simpatik tersebut, mereka melakukan rapid test. Dalam pelaksanaan aksi kami juga imbau mereka untuk tetap menggunakan protokol kesehatan untuk mengurangi penularan covid-19. Mudah-mudahan Insya Allah pelaksanaan kegiatan ini lancar dan terkendali," ujar Luckyto.

Dirinya menjelaskan aksi yang digelar tersebut, sebenarnya tidak diperkenankan. Karena masih dalam masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), apalagi hari ini PSBB baru saja diperpanjang hingga 12 Juli 2020 mendatang. 

"Ini sebenarnya tidak diperkenankan, kalau Peraturan Wali Kota selama PSBB ke lima emang dalam aturan sudah boleh orang berkumpul lebih dari lima orang, itu yang jadi acuan," ucapnya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA