Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Ilmuwan Singkap Ambang Batas Tercapainya Herd Immunity

Sabtu 27 Jun 2020 01:33 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Reiny Dwinanda

Beda herd Immunity alami dan via vaksinasi.

Beda herd Immunity alami dan via vaksinasi.

Foto: Republika
Herd immunity diperkirakan bisa tercapai saat banyak orang kebal terhadap penyakit.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sebuah studi menemukan bahwa herd immunity terhadap Covid-19 dapat dicapai dengan lebih sedikit orang yang terinfeksi daripada yang diperkirakan. Kekebalan kelompok terjadi ketika begitu banyak orang dalam suatu komunitas menjadi kebal terhadap penyakit.

Dikutip dari Times Now News, para ilmuwan University of Nottingham di Inggris, mencatat bahwa kekebalan berkembang ketika individu yang tertular penyakit membangun kekebalan alami atau mendapatkan vaksin. Mereka menjelaskan bahwa ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap suatu penyakit, penyebaran penyakit melambat atau berhenti dan rantai penularannya terputus.

Dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal Science, para peneliti merancang model matematika yang mengelompokkan orang ke dalam kelompok yang mencerminkan usia dan tingkat aktivitas sosial untuk menentukan persentase ambang batas populasi agar herd immunity dapat berkembang. Ketika memperhitungkan perbedaan usia dan aktivitas sosial dalam model, mereka menemukan bahwa tingkat kekebalan bisa dicapai pada 43 persen, lebih rendah dari prediksi sebelumnya, yakni 60 persen.

photo
Beda Herd Immunity Alami dan Via Vaksinasi - (Republika)
Angka 43 persen, menurut para ilmuwan, harus ditafsirkan sebagai ilustrasi daripada nilai yang tepat atau bahkan perkiraan terbaik. Untuk Covid-19, mereka mengatakan, kekebalan sering dinyatakan sekitar 60 persen, angka yang berasal dari populasi yang harus divaksinasi sebelum wabah terus membesar.

Baca Juga

Angka ini mengasumsikan bahwa setiap individu dalam populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk mendapatkan kekebalan. Mereka menegaskan bahwa ini tidak terjadi jika kekebalan muncul sebagai akibat dari penyebaran penyakit dalam populasi yang terdiri dari orang-orang dengan berbagai perilaku.

"Dengan mengambil pendekatan matematis baru ini untuk memperkirakan tingkat kekebalan yang ingin dicapai, kami menemukan bahwa tingkatnya berpotensi dapat dikurangi hingga 43 persen dan bahwa pengurangan ini terutama disebabkan oleh tingkat aktivitas daripada struktur usia," jelas penulis studi Frank Bola dari Universitas Nottingham.

Menurut para ilmuwan, semakin banyak individu yang aktif secara sosial, semakin besar kemungkinan mereka terinfeksi. Risikonya lebih besar daripada yang kurang aktif secara sosial. Mereka juga lebih mungkin menginfeksi orang jika mereka terinfeksi.

Para peneliti mengatakan, tingkat kekebalan kawanan lebih rendah ketika kekebalan disebabkan oleh penyebaran penyakit alih-alih dari vaksinasi.  Mereka percaya bahwa temuan ini memiliki imbas dalam pencabutan lockdown di seluruh dunia dan menyarankan bahwa variasi individu adalah fitur penting untuk dimasukkan dalam model kebijakan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA