Jumat 26 Jun 2020 14:15 WIB

Wagub Jabar Bantu Warga Terdampak Longsor di Tasikmalaya

Warga diharapkan waspada bencana karena Jabar rawan bencana

Rep: Bayu Adji P/ Red: Gita Amanda
Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum meninjau lokasi bencana di Kampung Mekarsari, Desa Cikubang, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (26/6). Sebanyak 30 KK atau 94 jiwa masih mengungsi akibat tanah longsor yang terjadi pada Jumat (19/6).
Foto: Republika/Bayu Adji P
Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum meninjau lokasi bencana di Kampung Mekarsari, Desa Cikubang, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (26/6). Sebanyak 30 KK atau 94 jiwa masih mengungsi akibat tanah longsor yang terjadi pada Jumat (19/6).

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum mengunjungi langsung lokasi terdampak longsor di Kampung Mekarsari, Desa Cikubang, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (26/6). Dalam kunjungan itu, Wagub Jabar juga memberikan bantuan kepada warga yang mengungsi akibat terdampak longsor yang terjadi pada Jumat (19/6).

Menurut dia, kunjungannya ke Desa Cikubang diutus langsung oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil. "Saya memberikan sedikit bantuan, tetapi ini pasti tidak akan memenuhi kebutuhan warga yang terdampak. Tapi minimal kita bisa membantu walaupun sedikit," kata dia di lokasi, Jumat.

Bendasarkan catatan Republika, bantuan yang diberikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar kepada para pengungsi di Desa Cikubang antara lain 64 paket sembako, 62 paket tambahan gizi, 150 paket makanan siap saji, 150 paket lauk pauk, 50 dus mi instan, 25 dus air mineral, 24 kaleng susu bayi, 100 buah selimut, dan 100 buah matras. Sementara itu, di Desa Cikubang terdapat 30 kepala keluarga (KK) atau 94 jiwa yang mengungsi akibat terdampak longsor.

Uu mengingatkan, warga harus terus waspada menghadapi bencana alam. Sebab Provinsi Jabar adalah salah satu wilayah rawan bencana. Ditambah, saat ini hujan dengan intensitas tinggi masih sering terjadi.

Menurut dia, ketika bencana telah terjadi dan menyebabkan warga terdampak, bukan hanya warga sulit. Pemerintah juga akan kerepotan dalam melakukan penanganan.

Untuk mengantisipasi bencana menimbulkan kerugian atau korban jiwa, Uu mengingatkan agar warga tak membuat sesuatu yang menimbulkan bencana. "Kita harus peduli pada lingkungan. Jangan seenaknya menebang pohon," kata dia.

Selain itu, ia juga mengimbau agar warga tak sembarangan membuat rumah tanpa memperhitungkan kondisi wilayahnya. Apalagi, warga yang tinggal di tebing atau tanah gawir. Sebab, di tanah itu bukan untuk dibangun rumah.

Uu mengatakan, kepala desa di masing-masing wilayah juga harus mengontrol warga yang ingin membuat rumah. "Apakah memungkinkan untuk dibuat rumah atau tidak. Masyarakat juga mesti sadar, kalau lokasi tidak layak bangun, tidak usah memaksakan," kata dia.

Ia menambahkan, masalah bencana harus ditangani secara bersama-sama, bukan hanya oleh pemerintah. Begitu juga dengan penanganan warga terdampak bencana, ia berharap, masyarakat yang memiliki harta berlebih juga bisa membantu mereka yang terdampak.

"Jangan hanya mengandalkan pemerintah. Kita sama-sama mebantu dalam kebaikan. Ke depan, kita harap tidak ada lagi bencana," kata dia.

Berdasarkan pantauan Republika, kunjungan Uu ke lokasi bencana itu disambut meriah oleh para warga terdampak yang berkumpul di tenda darurat. Tenda darurat berukuran sekira 5x5 meter itu, selain difungsikan sebagai dapur umum, juga dijadikan oleh sebagian warga yang rumahnya terdampak longsor. Sementara sebagian warga lainya ada yang mengungsi di mushala dan di rumah kerabat atau tetangga yang lebih aman.

Warga masih mengungsi karena masih trauma dengan bencana longsor yang terjadi pada Jumat pekan lalu. Mereka tak berani kembali ke rumahnya, karena masih terdapat pergerakan tanah.

Salah satu warga yang mengungsi, Dedeh (50 tahun) mengaku, sudah tak mau lagi tinggal di rumahnya. Ia takut akan terjadi longsor susulan dan akan membahayakan jiwanya. "Mau pindah. Sudah nggak mau balik lagi. Tanah masih terus gerak," kata dia.

Salah seorang warga lainnya, Kartika (36) mengaku lebih aman di lokasi pengungsian. Sebab, pergerakan tanah masih terus terjadi di rumahnya. "Saya juga maunya direlokasi," kata dia.

Sebagian warga yang mengungsi itu juga telah membongkar sisa-sisa rumah mereka yang masih bisa digunakan. Puing-puing itu diamankan agar tak terbawa jika terjadi longsor susulan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement