Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

PBB Kritik Kurangnya Koordinasi Global untuk Tangani Corona

Rabu 24 Jun 2020 16:27 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Sekjen PBB Antonio Guterres

Sekjen PBB Antonio Guterres

Foto: AP Photo/Mary Altaffer
Tindakan terpisah dari banyak negara dinilai tidak akan mengalahkan pandemi corona.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengkritik kurangnya koordinasi internasional dalam penanganan Covid-19. Dia memperingatkan kebijakan yang melakukan sesuatu secara sendiri-sendiri oleh banyak negara tidak akan mengalahkan pandemi.

"Ada kurangnya koordinasi di antara negara-negara dalam menanggapi Covid," kata Guterres dalam sebuah wawancara dengan Associated Press pada Selasa (23/6).

Menurutnya, saat ini yang perlu dilakukan adalah membuat negara-negara memahami bahwa dengan bertindak secara terpisah, mereka menciptakan situasi yang keluar kendali. Koordinasi global adalah kunci untuk penanganan pandemi Covid-19.

Baca Juga

Koordinasi dalam konteks ini tak hanya menyatukan kapasitas semua negara, tapi juga bekerja sama dalam hal perawatan, mekanisme pengujian, dan vaksin yang dapat diakses semua pihak. "Ini adalah cara kita mengalahkan pandemi," ujarnya.

Pada 23 Maret lalu, Guterres telah menyerukan gencatan senjata global untuk semua konflik yang tengah berlangsung di berbagai negara. Hal itu perlu dilakukan agar penanganan wabah di negara-negara terkait dapat dilakukan secara maksimal.

Namun, Guterres mengakui bahwa seruannya hanya memperoleh respons yang terbatas. "Saya frustrasi, tentu saja, dengan kurangnya kerja sama internasional pada saat ini. Tapi saya berharap bahwa generasi baru akan dapat membuat perubahan di masa mendatang," katanya.

Kasus Covid-19 global telah menembus angka 9,2 juta. Sebanyak 477 ribu orang telah meninggal akibat pandemi. 

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA