Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

PT Timah Bukukan Pendapatan Rp 4,4 T pada Kuartal I 2020

Rabu 24 Jun 2020 14:17 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha

Logo PT Timah Tbk

Logo PT Timah Tbk

Foto: Facebook PT Timah
Meski pendapatan tumbuh 5 persen, PT Timah mengalami koreksi laba.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Timah (Persero) Tbk membukukan pendapatan Rp 4,4 triliun pada kuartal I 2020. Raihan tersebut tumbuh 5 persen secara tahunan dibandingkan kuartal I 2019 yang sebesar Rp 4,2 triliun. 

Penjualan logam timah berkontribusi sebesar Rp 4,2 triliun, kemudian tin solder dan tin chemical masing-masing sebesar Rp 9,3 miliar dan Rp 102,4 miliar selama kuartal I 2020. 

"Membaiknya cashflow Perusahaan di kuartal pertama tahun ini menjadi sinyal membaiknya kinerja finansial perusahaan secara bertahap," kata Sekretaris Perusahaan TINS, Abdullah Umar, Selasa (23/6).

Kendati demikian, emiten dengan kode saham TINS ini mengalami koreksi laba yang cukup signifikan menjadi minus Rp 412 miliar. Penurunan tersebut disebabkan menukiknya harga logam timah yang merupakan dampak pandemi Covid-19. Rata-rata harga jual logam timah pada kuartal I 2020 turun 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.  

TINS mencatatkan produksi bijih timah di kuartal I 2020 sebesar 15.217 ton yang 84 persen diantarabya berasal dari penambangan darat, sedangkan 16 persen berasal dari penambangan laut. Adapun volume produksi logam mencapai 14.133 Mton dengan volume penjualan logam sebesar 17.553 Mton. 

Perubahan kondisi pasar akibat Covid-19 memaksa TINS untuk beradaptasi dengan melakukan sejumlah strategi efisiensi, diantaranya memangkas operational expenditure sebesar 30 persen, sedangkan capital expenditure diprioritaskan kepada yang mendukung pencapaian target produksi.

Arus kas dari aktivitas operasi pada kuartal I 2020 tercatat positif Rp 1,27 triliun dibandingkan kuartal I 2019 sebesar minus Rp 1,59 triliun. Selain itu, TINS berhasil melunasi sebagian utang bank jangka pendeknya sebesar Rp 1,7 triliun menjadi Rp 7,1 triliun atau turun 19 persen dibandingkan posisi Desember 2019 sebesar Rp 8,8 triliun.

TINS pun berencana melunasi hutang obligasi jangka pendek sebesar Rp 600 miliar yang jatuh tempo pada akhir September 2020. Perseroan udah menyiapkan sejumlah dana dalam rangka de-leveraging dengan melunasi kewajiban yang segera jatuh tempo tahun ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA