Selasa 23 Jun 2020 22:18 WIB

Pariwisata Melemah Pukul Ekonomi Kepri

Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau memang bergantung pada sektor pariwisata.

Dua orang wisatawan berfoto di atas jembatan di antara gugusan batu granit di kawasan Sepempang, Natuna, Kepulauan Riau, Ahad (9/2/2020).
Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Dua orang wisatawan berfoto di atas jembatan di antara gugusan batu granit di kawasan Sepempang, Natuna, Kepulauan Riau, Ahad (9/2/2020).

REPUBLIKA.CO.ID, BATAM -- Melemahnya sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19, memukul perekonomian Provinsi Kepulauan Riau yang memang bergantung pada sektor pengolahan dan pariwisata. Kepala Perwakilan BI Kepri, Musni Hardi K Atmaja dalam telekonferens, Selasa (23/6), menyatakan penurunan pariwisata mempengaruhi banyak sektor, seperti perdagangan, hotel dan transportasi di provinsi yang bertetangga dengan Singapura dan Malaysia itu.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau mencatat pertumbuhan ekonomi setempat pada triwulan I-2020 sebesar 2,06 persen (yoy) atau terkontraksi -4,51 persen (qtq). Perekonomian Kepri pada triwulan I-2020 lebih rendah dibandingkan pertumbuhan truwulan sebelumnya sebesar -3,35 persen.

Baca Juga

"Penurunan berasal dari melambatnya ekspor jasa, khususnya pariwisata dan investasi," kata dia.

Sektor yang paling terdampak yakni perdagangan, hotel dan restoran, konstruksi dan sub sektor transportasi. BI mencatat, penurunan jumlah kunjungan wisman mulai Februari sudah berkurang dan semakin menurun hingga pada April 2020 mencapai 99,51 persen (yoy).

Menurut dia, penurunan jumlah kedatangan wisman seiring dengan penyebaran Covid-19 yang masih terjadi di negara asal wisman utama yaitu Singapura, Malaysia dan Tiongkok. "Penurunan wisman itu mempengaruhi penjualan ritel, transportasi lokal serta jasa perjalanan wisata secara signifikan," kata dia.

BI juga mencatat, tingkat hunian kamar hotel di Kepri juga menurun sejak Februari dan semakin rendah pada April, sebesar 38,23 persen (yoy). Sedangkan rata-rata lama menginap di hhotel pada April 2020 justru semakin meningkat.

"Ini dipengaruhi oleh tamu 'long stay' perusahaan sejak pembatasan di Singapura dan Malaysia," kata dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement