Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Italia Minta Evaluasi Rekomendasi Baru dari WHO

Senin 22 Jun 2020 15:11 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Sejumlah orang menikmati makanan di sebuah restoran di distrik Trastevere selama fase dua masa pemulihan pandemi Covid-19, Roma, Italia, Senin (18/5). Italia secara bertahap mencabut kebijakan lockdown yang diterapkan untuk membendung penyebaran COVID-19.

Sejumlah orang menikmati makanan di sebuah restoran di distrik Trastevere selama fase dua masa pemulihan pandemi Covid-19, Roma, Italia, Senin (18/5). Italia secara bertahap mencabut kebijakan lockdown yang diterapkan untuk membendung penyebaran COVID-19.

Foto: EPA-EFE / ANGELO CARCONI
Kementerian Kesehatan Italia minta penasihat pemerintah evaluasi rekomendasi WHO

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA - Kementerian Kesehatan Italia meminta penasihat pemerintah untuk mengevaluasi rekomendasi baru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Rekomendasi itu berisi bahwa orang dengan Covid-19 dapat keluar dari isolasi bahkan sebelum mereka menguji negatif untuk virus corona.

Italia sebagai negara yang pernah menjadi episentrum pandemi mengikuti saran pengujian WHO sebelumnya. Beberapa orang mengisolasi diri walaupun mereka merasa baik-baik saja. Hal itu dikarena mereka menerus dites positif terhadap virus corona.

Baca Juga

Seorang wanita menjadi berita utama di Italia karena dia dites positif enam kali, selama 57 hari, meskipun dia mengatakan merasa baik-baik saja. Tetapi secara teknis, dia dituntut untuk tetap berada di tempat yang terisolasi.

Menteri Kesehatan Roberto Speranza meminta komite penasihat ilmiah dan teknis Pemerintah Italia untuk mengevaluasi pedoman rekomendasi WHO baru. Dia mencatat mereka mewakili perubahan "signifikan" untuk manajemen Italia bagi pasien Covid-19.

Speranza mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa saran WHO yang diperbarui itu juga dapat mengubah cara pemerintah menghitung siapa yang telah pulih secara resmi dari virus. Dia juga merekomendasikan tindakan pencegahan maksimum.

Secara singkat, dokter mengatakan banyak kasus baru yang dikonfirmasi di Italia disebabkan oleh orang yang dites virus setelah mereka melakukan tes darah mencari antibodi Covid-19. Di Italia, mereka yang telah mengembangkan antibodi secara otomatis diuji secara spesifik untuk virus corona, dengan beberapa hasil positif terdaftar pada orang yang mungkin sakit jauh lebih awal atau tidak pernah merasa sakit.

Pekan lalu WHO mengatakan pasien yang menghabiskan 10 hari berturut-turut dalam isolasi dengan gejala dapat dilepaskan jika mereka bebas dari gejala setidaknya selama tiga hari. Orang yang tidak mengembangkan gejala Covid-19 dapat berhenti mengisolasi 10 hari setelah mereka pertama kali dinyatakan positif, menurut pedoman WHO yang direvisi.

Sebelumnya, WHO merekomendasikan untuk mengakhiri isolasi orang yang terinfeksi hanya setelah mereka menguji negatif dua kali pada sampel yang diambil 24 jam terpisah. Perubahan ini penting karena banyak negara sedang bergulat dengan cara menangani ribuan orang yang secara teknis terinfeksi virus tetapi mungkin masih belum menimbulkan risiko penularan kepada orang lain.

Badan kesehatan PBB itu mengatakan, mereka memutakhirkan rekomendasinya karena pasien Covid-19 yang sudah sembuh masih dinyatakan positif mengidap Covid-19 beberapa pekan kemudian. "Terlepas dari hasilnya, pasien-pasien ini tidak mungkin menular dan karenanya tidak mungkin dapat menularkan virus ke orang lain," kata WHO dilansir ABC News.

Hingga Ahad (21/6), Italia melaporkan 224 kasus virus corona baru dan 24 kematian dalam satu hari terakhir. Secara total angka kematian resmi negara akibat pandemi menjadi 34.634.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA