Senin 22 Jun 2020 13:53 WIB

Apa Persamaan DBD dan Covid-19?

Orang yang positif Covid-19 juga bisa kena DBD.

Virus corona (ilustrasi). Daerah dengan angka Covid-19 yang tinggi juga mengalami jumlah kasus demam berdarah yang tinggi.
Foto: www.freepik.com
Virus corona (ilustrasi). Daerah dengan angka Covid-19 yang tinggi juga mengalami jumlah kasus demam berdarah yang tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pasien Covid-19 juga berisiko terinfeksi Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan data Kemenkes, daerah dengan angka Covid-19 yang tinggi juga ditandai jumlah kasus demam berdarah yang tinggi.

"Dari 460 kabupaten dan kota yang melaporkan adanya kasus DBD, sebanyak 439 di antaranya juga melaporkan adanya kasus Covid-19 di daerah itu," kata dia saat diskusi daring dengan tema "Ancaman Demam Berdarah di Masa Pandemi" di Graha BNPB Jakarta, Senin., kata dia.

Baca Juga

Siti menjelaskan, Covid-19 dan DBD pada prinsipnya sama. Keduanya adalah penyakit yang sampai sekarang belum ada obatnya dan vaksinnya belum terlalu efektif. Upaya mencegah virus dengue ialah menghindari gigitan nyamuk tersebut melalui perilaku hidup bersih dan sehat.

"Fenomena ini yang terjadi artinya memungkinkan seseorang kalau dia terinfeksi Covid-19, dia juga dapat berisiko untuk terinfeksi demam berdarah," katanya.

Pada situasi pandemi Covid-19, menurut Siti, Kemenkes dihadapkan dengan tiga kendala dalam upaya memberantas sarang nyamuk. Pertama, kegiatan juru pemantau jentik tidak bisa optimal sebab adanya kebijakan menjaga jarak fisik.

Kedua, bangunan-bangunan di antaranya sekolah, perkantoran, hotel, rumah ibadah dan fasilitas umum lainnya selama beberapa bulan terakhir banyak yang kosong. Alhasil, bangunan itu berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

"Dan ketiga karena masyarakat banyak berada di rumah sehingga perlu kita melakukan pemberantasan sarang nyamuk," ujarnya.

Sementara itu, ahli Infeksi dan Pediatri Tropik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM) dr Mulya Rahma Karyanti mengatakan kasus DBD di Tanah Air mencapai 68 ribu kasus. Tingginya kasus tidak memengaruhi layanan kesehatan di rumah sakit, meskipun dalam waktu bersamaan pasien Covid-19 juga banyak.

"Pelayanan tidak ada terganggu karena akan disaring di triase rumah sakit yang memilah mana pasien Covid-19 atau DBD," ujar dia.

Mulya menjelaskan gejala-gejala pasien DBD di antaranya demam tinggi mendadak, mimisan, nyeri kepala, muntah-muntah, hingga pendarahan yang tidak ditemui pada pasien Covid-19. Selain itu, Aedes aegypti atau nyamuk penyebab demam berdarah biasanya menggigit pada pukul 10.00 hingga 12.00 WIB dan 16.00 hingga 17.00 WIB.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement