Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Brazil Puncaki Kasus Kematian Covid-19 di Dunia

Senin 22 Jun 2020 11:05 WIB

Red: Indira Rezkisari

Aktivis meletakkan salib dan bendera Brazil sebagai bentuk protes terhadap penanganan Covid-19 oleh pemerintah Brazil, Kamis (11/6). Jumlah kematian Covid-19 di Brazil telah mencapai 50 ribu, tertinggi di dunia.

Aktivis meletakkan salib dan bendera Brazil sebagai bentuk protes terhadap penanganan Covid-19 oleh pemerintah Brazil, Kamis (11/6). Jumlah kematian Covid-19 di Brazil telah mencapai 50 ribu, tertinggi di dunia.

Foto: EPA-EFE/ANTONIO LACERDA
Brazil menjadi negara kedua yang miliki kasus positif Covid-19 capai 1 juta.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dwina Agustin, Rizky Jaramaya, Antara

Brazil yang menjadi lokasi terparah berjangkitnya virus corona setelah Amerika Serikat, secara resmi mencatat 50.000 kematian pada ahad (21/5). Angka tersebut menjadi satu pukulan bagi negeri yang dilanda lebih dari sejuta kasus. Kondisi tersebut menambah ketakstabilan politik dan kelumpuhan ekonomi.

Brazil sekarang mencatat total 1.085.038 kasus terkonfirmasi dan 50.617 kematian. Angka kematiannya naik dari 49.976 pada Sabtu (20/6), kata Kementerian Kesehatan.

Para ahli mengatakan jumlah yang sebenarnya jauh lebih tinggi karena kurangnya pengujian yang menyeluruh. Negeri terbesar Amerika Latin itu dalam banyak kasus mencatat lebih dari 1.000 kematian per hari tapi biasanya mencatat lebih sedikit pada akhir pekan.

Brazil mengonfirmasi kasus pertama virus corona pada 26 Februari dan melewati 1 juta kasus pada Jumat (19/6). Sejak kehadiran pertama di negeri itu, penyebaran cepat virus itu mengikis dukungan bagi Presiden sayap kanan Jair Bolsonaro dan meningkatkan kekhawatiran ambruknya ekonomi setelah beberapa tahun pertumbuhan yang rendah.

Bolsonaro yang biasa dipanggil "Trump Tropis" dikritik secara meluas karena cara penanganannya terhadap krisis itu. Negeri itu masih belum punya menteri kesehatan karena mengundurkan diri sejak April setelah berselisih dengan presiden.

Bolsonaro menafikkan jaga jarak sosial, menyebutnya sebagai langkah menghilangkan lapangan pekerjaan lebih berbahaya daripada virus itu sendiri. Dia juga mempromosikan dua obat anti malaria, chloroquine dan hydroxychloroquine, meskipun kemanjurannya hanya sedikit.

Pada Ahad, Bolsonaro mengatakan militer melayani kehendak rakyat dan misinya adalah mempertahankan demokrasi. Pernyataannya ini mengobarkan perdebatan yang penuh kemarahan mengenai peran angkatan bersenjata di tengah kekhawatiran yang bergaung atas kerapuhan politik.

Komentar-komentarnya muncul pada hari yang sama dengan berkumpulnya pendukung dan pengecamnya di kota-kota seluruh negeri, yang menandakan secara mencolok terjadinya polarisasi di negara itu, dilansir dari Reuters.

Angka satu juta kasus positif Covid-19 di Brazil diduga sebenarnya melebihi itu. Wabah Covid-19 di Brazil diperkirakan melampaui angka-angka resmi. Banyak ahli menyebut kurangnya pengujian yang menjangkau masyarakat secara menyeluruh.

"Angka satu juta itu jauh lebih kecil ketimbang jumlah riil warga yang terinfeksi sebab rendahnya laporan atas besarnya infeksi yang mencapai lima hingga 10 kali lipat," kata Alexandre Naime Barbosa, profesor medis Universitas Negara Bagian Sao Paulo.

"Jumlah sebenarnya mungkin sedikitnya 3 juta dan bahkan dapat sebanyak 10 juta orang," katanya lagi.



Corona tiba di Brasil lewat turis kaya yang pulang dari Eropa ke kota-kota utama sebelah tenggara seperti Sao Paulo dan Rio de Janeiro. Kemudian, Covid-19 menyebar masuk ke dalam negeri yang mencapai 82 persen wilayah pemerintahan.

Ketika Sao Paulo melonggarkan restriksi meski peningkatan kematian masih terjadi pada pertengahan Juni lalu, warga Sao Paulo tetap berbondong-bondong pergi ke distrik perbelanjaan, 25 de Marco di kota tersebut. Sebanyak separuh pertokoan di distrik itu telah beroperasi kembali setelah ditutup sejak Maret lalu.

Para pembeli tampak memadati jalanan di distrik 25 de Marco. Pertokoan di distrik tersebut menerapkan kebijakan wajib mengenakan masker dan menyediakan hand sanitizer. Beberapa toko memeriksa suhu tubuh pelanggan di pintu masuk.

"Saya merasa takut, karena virusnya masih ada, tetapi pada saat yang sama kita harus pergi bekerja dan membeli barang untuk dijual, dan tetap mengenakan masker," ujar seorang pramuniaga, Vanessa Pereira.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan peningkatan satu hari terbesar dalam kasus Covid-19 pada Ahad (21/6). Selama 24 jam,  lebih dari 183.000 kasus baru dilaporkan sehingga membuat total kasus sebanyak 8.708.008.

Badan kesehatan PBB mengatakan, Brazil memimpin dengan 54.771 kasus dan Amerika Serikat (AS) di posisi berikutnya dengan 36.617. Sedangkan penyumbang ketiga adalah India dengan lebih dari 15.400 kasus.

Para ahli mengatakan, meningkatnya jumlah kasus dapat mencerminkan banyak faktor, termasuk pengujian serta infeksi yang lebih luas. Sedangkan jumlah kematian telah mencapai 461.715 orang di seluruh dunia, dengan peningkatan harian 4.743. Lebih dari dua pertiga dari kematian baru itu dilaporkan di AS.

Meski menghadapi jumlah peningkatan kasus, negara-negara mulai melonggarkan peraturan karantina. Di Spanyol, para pejabat mengakhiri keadaan darurat nasional setelah tiga bulan.

Meski melonggarkan kegiatan bagi 47 juta penduduknya, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, mendesak warga untuk mengambil tindakan pencegahan maksimum. "Virus dapat kembali dan dapat menyerang kita lagi dalam gelombang kedua, dan kita harus melakukan apa pun yang kita bisa untuk menghindari itu dengan cara apa pun," ujarnya.

Sedangkan AS, sebagai penyumbang kasus terbanyak, Presiden Donald Trump dalam kampanye di Tulsa, Oklahoma, mengatakan, telah menguji 25 juta orang. Langkah ini bisa menjadi sisi buruk karena membuat lebih banyak kasus terlaporkan.

"Ketika Anda melakukan pengujian sejauh itu, Anda akan menemukan lebih banyak orang, Anda akan menemukan lebih banyak kasus," kata Trump.

Jumlah kasus virus yang dikonfirmasi masih berkembang pesat tidak hanya di AS, tetapi juga Brazil, Afrika Selatan, dan negara-negara lain, terutama di Amerika Latin. Kementerian Kesehatan Brazil mengatakan, jumlah total kasus telah meningkat lebih dari 50.000 dalam sehari.

Afrika Selatan melaporkan tingginya kasus satu hari dengan hampir 5.000 dan 46 kematian pada Sabtu. Meskipun ada peningkatan, Presiden Cyril Ramaphosa mengumumkan pelonggaran lebih lanjut dari salah satu penutupan paling ketat di dunia. Kasino, salon kecantikan, dan layanan restoran akan dibuka kembali.

Sedangkan di Asia, China dan Korea Selatan melaporkan kasus virus corona dalam wabah yang mengancam pada akhir pekan. Otoritas China mencatat 25 kasus baru yang dikonfirmasi dengan 22 di Beijing. Korea Selatan, hampir 200 infeksi telah ditelusuri ke karyawan di sebuah perusahaan penjualan dari pintu ke pintu di Seoul, dan setidaknya 70 infeksi lainnya terkait dengan klub tenis meja, dilansir dari AP.

photo
Masker Tiga Lapis WHO - (Republika)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA